Wednesday, February 11, 2026
HomeLainnyaKemandirian Antariksa dan Perlombaan Teknologi Global

Kemandirian Antariksa dan Perlombaan Teknologi Global

Sejak Perang Dunia hingga Perang Dingin, Amerika Serikat dan Uni Soviet bersaing sebagai kekuatan super global, bukan melalui konflik militer langsung, melainkan melalui persaingan teknologi. Duel ini mencakup penyempurnaan senjata, pesawat, dan senjata nuklir. Namun, saingan paling menarik adalah penjelajahan antariksa. Dimulai dengan suksesnya Uni Soviet dalam mengirimkan manusia pertama ke luar angkasa, hingga saat Amerika Serikat mendarat di bulan.

Setelah pendaratan terakhir di bulan pada tahun 1972, aktifitas antariksa manusia sepertinya terhenti, bukan karena tidak bisa, tetapi karena biayanya yang sangat mahal. Sampai sekarang, manusia belum banyak keluar dari orbit bumi atau kembali ke bulan. Namun, meskipun begitu, teknologi kita telah berkembang untuk memungkinkan eksplorasi dengan lebih detail. Contohnya, melalui drone dan satelit di berbagai planet di tata surya, serta rover drone di Mars.

Walaupun demikian, eksplorasi ke luar angkasa ini masih didominasi oleh beberapa negara saja. Sebagai manusia, kita memiliki tujuan yang sama. Dengan teknologi terbaru, banyak negara sekarang bisa memulai program antariksa mereka sendiri, memicu perlombaan antariksa baru. Pertanyaan tentang siapa yang bisa mencapai dan mengendalikan sumber daya di antariksa menjadi isu penting dalam diskusi ini.

Pertemuan publik CIReS LPPSP FISIP UI berjudul “Mewujudkan Kemandirian Antariksa Indonesia di Tengah Rivalitas Global” berhasil diadakan pada Selasa, 27 Mei 2025. Acara ini menghadirkan Prof. Thomas Djamaluddin (BRIN RI) sebagai pembicara utama dan sejumlah pembicara lain dari berbagai sektor. Diskusi ini dipandu oleh Vahd Nabyl Achmad Mulachela, S.IP., M.A dari Kementerian Luar Negeri RI.

Prof. Thomas Djamaluddin membuka diskusi dengan tiga pertanyaan pokok yang menjadi dasar pembahasan: (1) bagaimana perkembangan antariksa Indonesia dari segi aset, penyelenggaraan, dan kerja sama; (2) apa tantangan utama dalam pengembangan lembaga antariksa di Indonesia; dan (3) bagaimana Indonesia berkembang dibandingkan dengan negara lain.

Dalam presentasinya, Prof. Thomas Djamaluddin memaparkan sejarah keantariksaan Indonesia, mulai dari pembentukan Aerospace Council Lapan hingga pembangunan stasiun bumi satelit. Narasumber lain menyoroti kurangnya dukungan pemerintah dan masyarakat terhadap program antariksa Indonesia. Hal ini menandakan perlunya edukasi yang lebih kuat untuk membangun pemahaman tentang sektor ini.

Diskusi ini menggarisbawahi pentingnya dukungan semua pihak untuk mencapai kemandirian antariksa Indonesia. Semua pihak perlu memahami signifikansi sektor antariksa dan mendukung pembangunannya. Dengan begitu, generasi mendatang akan lebih siap untuk mewujudkan visi Indonesia di luar angkasa dan berkompetisi dalam perlombaan antariksa global.

Sumber: Kemandirian Antariksa Dan RUU Pengelolaan Ruang Udara Nasional: Strategi Indonesia Hadapi Era Baru Perlombaan Antariksa
Sumber: Kemandirian Antariksa, Era Baru Perang Bintang Indonesia?

RELATED ARTICLES

Terpopuler