Fenomena Bediding Meluas hingga Pulau Bali dan Nusa Tenggara
Belakangan ini, fenomena bediding atau suhu dingin mulai dirasakan tidak hanya di Pulau Jawa, tetapi juga meluas hingga Pulau Bali, Nusa Tenggara Barat (NTB), dan Nusa Tenggara Timur (NTT). Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menjelaskan bahwa kondisi ini merupakan hal yang normal terjadi selama musim kemarau dan diperkirakan akan terus berlangsung hingga puncak kemarau pada Agustus–September 2026.
Penyebab Fenomena Bediding
Sekretaris Utama BMKG, Guswanto, menjelaskan bahwa bediding umumnya terjadi pada malam hingga pagi hari selama musim kemarau. Cuaca cerah dan minim awan membuat panas dari permukaan bumi lebih mudah terlepas ke atmosfer, sehingga suhu udara pada malam hari menjadi lebih rendah. Selain itu, penguatan Monsun Australia juga turut berperan dengan membawa massa udara dingin dan kering dari wilayah selatan khatulistiwa, sehingga suhu dingin lebih terasa di wilayah Indonesia bagian selatan, terutama di daerah dataran tinggi.
Imbauan dan Catatan BMKG
BMKG mengimbau masyarakat untuk menjaga daya tahan tubuh, menggunakan pakaian hangat saat malam atau pagi hari, serta menjaga asupan cairan yang cukup. Guswanto menegaskan bahwa kondisi ini diprediksi akan berlangsung hingga puncak kemarau pada Agustus-September 2026, serta tidak hanya terjadi di Jawa, tetapi juga meluas hingga Bali, NTB, dan NTT.
BMKG mencatat adanya penurunan suhu udara yang signifikan di berbagai wilayah. Contohnya, suhu di Kota Batu, Jawa Timur, mencapai 12 derajat Celsius, sedangkan suhu di kawasan Bromo turun hingga 5,1 derajat Celsius. Di Jawa Tengah, fenomena embun es bahkan terjadi di Dieng dengan suhu mencapai minus 6 derajat Celsius, sementara Wonosobo berkisar antara 14–17 derajat Celsius.


