Pada Kamis, 23 April 2026, daftar artikel terpopuler di VIVA Otomotif kembali didominasi oleh isu kendaraan listrik yang semakin meningkat. Isu terkait bukan lagi seputar teknologi, melainkan tentang “ujian” praktis setelah berkurangnya insentif, termasuk ketidakpastian pajak hingga solusi transisi yang mulai dipertimbangkan. Dalam artikel ini, terdapat tiga topik terpopuler yang menjadi sorotan.
Pertama, kebijakan baru terkait pajak kendaraan listrik dianggap sebagai ujian bagi keberlangsungan tren elektrifikasi di Indonesia. Setelah insentif-insentif sebelumnya, pasar sekarang dihadapkan pada realitas biaya yang lebih normal. Tanpa jaminan pajak nol persen, konsumen harus mengkalkulasi ulang total biaya kepemilikan, yang akan memengaruhi minat terhadap mobil listrik di masa depan.
Kedua, aturan pajak terbaru bagi kendaraan listrik akan berlaku mulai 1 April 2026. Perubahan ini menjadikan mobil listrik sebagai objek Pajak Kendaraan Bermotor seperti kendaraan konvensional. Meskipun demikian, pemerintah daerah masih memiliki kewenangan untuk memberikan insentif dalam bentuk pengurangan atau pembebasan sebagian pajak. Hal ini membuat biaya kepemilikan mobil listrik dapat berbeda-beda di setiap wilayah.
Ketiga, dalam kondisi infrastruktur yang belum merata, teknologi kendaraan plug-in hybrid electric vehicle (PHEV) mulai menjadi solusi transisi yang dipertimbangkan. Dengan menggabungkan mesin bensin dan motor listrik, PHEV dianggap lebih fleksibel untuk penggunaan sehari-hari tanpa harus terlalu bergantung pada jaringan pengisian daya listrik yang belum merata. Opsi ini dianggap lebih realistis bagi konsumen yang masih ragu untuk beralih ke mobil listrik secara penuh.


