Leapmotor B10 Diuji ke Bandung, Catatan Penting!
Belakangan ini, mobil listrik menjadi sorotan utama dalam industri otomotif. Tidak terkecuali di China, negara dengan pasar mobil listrik terbesar di dunia. Sementara kendaraan energi baru semakin populer, berbagai tantangan juga mulai terkuak, termasuk terkait biaya perawatan infrastruktur jalan.
Lebih Berat, Lebih Rusak?
Menurut laporan dari South China Morning Post, penjualan mobil listrik di China menyumbang lebih dari 60 persen dari total penjualan mobil baru pada Mei 2026. Angka ini mencerminkan transisi yang pesat dari kendaraan konvensional ke mobil listrik dan hybrid di sana.
Namun, di balik kesuksesan tersebut, ada konsekuensi yang mulai dirasakan. Diketahui bahwa mobil listrik umumnya memiliki bobot yang lebih berat dibandingkan mobil bermesin konvensional. Hal ini disebabkan oleh keberadaan paket baterai berkapasitas besar dalam mobil listrik, yang tentu saja menambah bobot kendaraan tersebut.
Dampak dari bobot yang lebih berat ini adalah tekanan tambahan yang diterima oleh permukaan jalan, terutama pada jalanan dengan lalu lintas yang padat. Sebagai hasilnya, kebutuhan perbaikan dan pemeliharaan jalan jauh lebih cepat meningkat dari sebelumnya.
Krisis Pendanaan Infrastruktur
Selama bertahun-tahun, biaya perawatan jalan di China sebagian besar ditopang oleh pajak konsumsi bensin. Namun, dengan berkembangnya penggunaan mobil listrik, penerimaan pajak tersebut mulai menurun drastis. Hal ini terjadi akibat berkurangnya konsumsi bensin karena masyarakat beralih ke kendaraan listrik yang tidak menggunakan bahan bakar fosil.
Situasi ini menjadi tantangan serius bagi pemerintah China. Di satu sisi, mereka dihadapkan pada meningkatnya biaya perawatan jalan akibat kendaraan yang lebih berat, namun di sisi lain, pendapatan dari pajak bensin yang menjadi sumber pendanaan utama perawatan jalan justru mengalami penurunan. Ini menjadi dilema yang harus segera dicari solusinya untuk menjaga infrastruktur jalan yang berkelanjutan.


