Harga Bitcoin (BTC) mengalami tekanan signifikan di tengah ketidakpastian geopolitik setelah pidato Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump tentang konflik Iran. Trump menyatakan bahwa AS akan meningkatkan serangan terhadap Iran dalam dua hingga tiga minggu ke depan tanpa memberikan jelasnya kapan konflik akan berakhir. Hal ini berdampak pada lonjakan harga minyak lebih dari 5%, yang mengakibatkan kekhawatiran inflasi global. Selain itu, penguatan dolar AS dan kenaikan yield obligasi juga menekan aset berisiko termasuk kripto.
Penurunan harga Bitcoin juga dipengaruhi oleh melemahnya pasar derivatif. Data menunjukkan penurunan open interest futures Bitcoin dalam waktu singkat, mencerminkan berkurangnya minat dan meningkatnya kehati-hatian trader. Volume perdagangan juga menurun, menandakan minimnya dorongan beli yang kuat dalam situasi ketidakpastian makro. Meskipun sempat bertahan di kisaran USD 68.000 sebelum pidato, harga Bitcoin turun ke sekitar USD 66.000 karena reaksi negatif pasar global terhadap potensi eskalasi konflik yang berlanjut.
Sebelum pidato, pelaku pasar mengantisipasi narasi bahwa “perang akan segera berakhir”, namun reli harga Bitcoin dan aset berisiko lainnya tidak didukung oleh akumulasi yang kuat. Indikator Cumulative Volume Delta (CVD) menunjukkan dominasi tekanan jual, sementara On-Balance Volume (OBV) menunjukkan adanya distribusi aset, dimana pelaku pasar lebih memilih untuk keluar dari posisi daripada menambah eksposur.


