KAI: Maksimalkan Aset dengan Empat Mesin Pendapatan Baru

KAI Bidik Kontribusi Bisnis Non-Farebox 25% pada 2045
PT Kereta Api Indonesia (Persero) atau KAI berencana untuk meningkatkan kontribusi bisnis non-farebox hingga mencapai 20–25% terhadap total pendapatannya pada tahun 2045. Saat ini, sekitar 94% pendapatan KAI berasal dari bisnis transportasi (farebox), sedangkan bisnis non-farebox baru menyumbang sekitar 6%.
Tantangan dan Peluang Pengembangan Bisnis KAI
Direktur Utama KAI, Bobby Rasyidin, menyatakan bahwa skala perusahaan tersebut sudah sangat besar dan tantangan selanjutnya adalah meningkatkan kontribusi dari aset, teknologi, keahlian, dan basis pelanggan sebagai sumber pertumbuhan baru. Untuk mencapai target ini, KAI akan mengembangkan empat mesin pertumbuhan yang meliputi aset operasional, aset berwujud, aset berbasis kapabilitas, serta aset teknologi.
KAI memiliki sekitar 327,8 juta meter persegi aset lahan perkeretaapian yang dapat dimanfaatkan melalui pengembangan kawasan properti, Transit-Oriented Development (TOD), layanan digital, Maintenance, Repair, and Overhaul (MRO), manufaktur, serta jasa berbasis keahlian perkeretaapian. Bobby menegaskan bahwa pertumbuhan ke depan harus lebih produktif, dengan KAI perlu memperkuat operasional, mengelola aset secara optimal, dan memanfaatkan teknologi dengan lebih cepat.




