Lonjakan Harga Mobil Listrik Bekas Akibat Perang Iran
Pasar otomotif global mulai mengalami perubahan signifikan akibat lonjakan harga bahan bakar yang dipicu oleh konflik Iran. Tidak hanya mobil bermesin bensin yang terkena dampak, namun kendaraan listrik bekas atau electric vehicle (EV) juga mengalami kenaikan harga yang cukup tajam.
Kenaikan Harga EV Bekas di Amerika Serikat
Situasi ini terjadi di Amerika Serikat sejak pecahnya perang Iran pada akhir Februari 2026. Kenaikan harga bensin mendorong konsumen untuk beralih ke kendaraan yang lebih hemat energi, termasuk mobil listrik dan hybrid. Sebagai hasilnya, permintaan terhadap EV bekas meningkat secara signifikan dalam beberapa bulan terakhir.
Analis dari CarGurus, Kevin Roberts, mencatat bahwa tren kenaikan harga EV bekas sudah terlihat sejak Maret hingga April 2026. Saat harga bahan bakar naik, minat masyarakat terhadap kendaraan hemat energi juga meningkat.
Harga EV Bekas Meningkat secara Signifikan
Bahkan, beberapa model EV mengalami lonjakan harga yang cukup besar dalam periode singkat. Contohnya, harga rata-rata Tesla Model X naik lebih dari 6.000 dolar AS hanya dalam waktu beberapa bulan. Hal serupa terjadi pada Rivian R1S, Porsche Taycan, Ford Mustang Mach-E, dan Kia EV9.
Meskipun harga EV bekas mulai meningkat, kendaraan ini masih menjadi pilihan menarik bagi konsumen. Ketersediaan unit bekas yang semakin terbatas juga turut mendorong naiknya harga kendaraan tersebut. Namun, kelebihan dari EV bekas adalah usia kendaraan yang relatif muda dan jarak tempuh yang lebih rendah dibanding mobil konvensional sekelas.
Selain itu, selisih harga antara mobil listrik baru dan mobil bensin semakin menyempit. Data Cox Automotive menunjukkan bahwa premi harga EV baru terhadap mobil konvensional turun hingga titik terendah sepanjang sejarah. Hal ini menunjukkan bahwa kendaraan listrik semakin terjangkau bagi masyarakat umum.


