Bank Indonesia (BI) Yakin Rupiah Bakal Stabil dan Menguat
Bank Indonesia (BI) mengungkapkan optimisme terhadap penguatan dan stabilitas nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS). Gubernur BI Perry Warjiyo menyatakan bahwa saat ini rupiah berada dalam kondisi undervalued, namun diyakini akan mengalami stabilitas serta penguatan ke depan.
Nilai Fundamental yang Kuat
Perry menyebutkan bahwa fundamental ekonomi Indonesia saat ini sangat kuat, didukung oleh pertumbuhan ekonomi sebesar 5,61 persen dan tingkat inflasi yang tetap rendah. Selain itu, pertumbuhan kredit dan cadangan devisa yang memadai juga menjadi indikator kuat yang seharusnya mendukung nilai tukar rupiah stabil dan menguat di pasar.
Meskipun demikian, Perry juga mengakui adanya tekanan jangka pendek yang menyebabkan pelemahan nilai tukar rupiah. Faktor utama yang memengaruhi adalah faktor global dan musiman.
Tekanan Global dan Musiman
Salah satu faktor global yang memengaruhi nilai tukar rupiah adalah tingginya harga minyak dunia dan kenaikan suku bunga Amerika Serikat. Hal ini tercermin dari yield US Treasury tenor 10 tahun yang mencapai 4,47 persen, yang memicu penguatan dolar AS secara luas. Selain itu, Perry juga menyebutkan adanya pelarian modal dari pasar-pasar berkembang, termasuk Indonesia.
Selain faktor global, tekanan musiman juga turut meningkatkan permintaan dolar AS di dalam negeri. Terutama pada periode April hingga Juni, kebutuhan valuta asing meningkat untuk berbagai keperluan seperti pembayaran repatriasi dividen, utang, dan biaya jemaah haji.


