Roti sourdough kembali menjadi tren yang mencuri perhatian, tidak hanya karena rasa tetapi juga manfaat kesehatan yang dikaitkan dengannya. Roti yang memiliki rasa asam khas ini kembali viral belakangan ini setelah sempat populer saat pandemi. Dalam kondisi masyarakat yang semakin tertarik pada makanan fermentasi, pertanyaan muncul apakah sourdough memang lebih sehat daripada roti biasa atau hanya sekadar tren artisanal. Jawabannya tidak sederhana.
Roti sourdough dibuat dari bahan sederhana seperti tepung, air, dan garam dengan proses fermentasi alami yang menggunakan starter yang mengandung rai liar dan bakteri asam laktat. Proses fermentasinya berlangsung lebih lama, sekitar 12 hingga 24 jam. Dibandingkan dengan roti lain, sourdough memiliki kandungan nutrisi yang tidak jauh berbeda, bergantung pada jenis tepung yang digunakan. Meskipun memiliki kandungan protein yang lebih tinggi, kandungan seratnya cenderung lebih rendah daripada roti gandum utuh.
Keunggulan utama sourdough terletak pada proses fermentasinya yang menghasilkan bakteri baik atau probiotik yang mendukung kesehatan usus, serta menciptakan prebiotik yang membantu pertumbuhan bakteri baik dalam pencernaan. Proses fermentasi ini juga membantu menurunkan indeks glikemik roti, sehingga tidak menyebabkan lonjakan gula darah setinggi roti biasa. Selain itu, fermentasi yang berlangsung lama turut memecah sebagian gluten dan pati dalam adonan. Jadi, meskipun sourdough tidak selalu menjadi pilihan terendah kalori atau tertinggi serat, proses fermentasinya menjadikan roti ini memiliki manfaat kesehatan yang cukup signifikan.


