Bulan April di Jakarta masih sering diguyur hujan meskipun sudah masuk musim kemarau. Menurut Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), curah hujan yang tinggi di beberapa wilayah adalah karakteristik masa peralihan musim. BMKG mengungkapkan bahwa Jakarta saat ini belum memasuki musim kemarau, dan kemungkinan baru akan terjadi pada awal bulan Mei. Cuaca basah saat ini dipengaruhi oleh aktivitas gelombang atmosfer seperti Rossby Ekuatorial, Kelvin, dan Mixed Rossby-Gravity (MRG) di sejumlah wilayah. Faktor lain yang mempengaruhi cuaca adalah peralihan Monsun Asia ke Monsun Australia yang membentuk sirkulasi udara dan area konvergensi. BMKG juga mencatat adanya sirkulasi siklonik di beberapa wilayah, mendukung pertumbuhan awan hujan. Selain itu, kondisi atmosfer di Indonesia dipengaruhi oleh faktor global seperti El Niño-Southern Oscillation (ENSO) dan Dipole Mode Index (DMI). Meskipun beberapa wilayah Indonesia mulai memasuki masa peralihan menuju musim kemarau, namun faktor seperti Madden-Julian Oscillation (MJO), Gelombang Rossby Ekuatorial, dan Gelombang Kelvin tetap berdampak pada kondisi cuaca di sejumlah wilayah. Dinamika atmosfer yang kompleks membuat cuaca Jakarta tetap basah meskipun sudah seharusnya memasuki musim kemarau.


