Berita terbaru dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat bahwa musim kemarau di sebagian besar wilayah Indonesia diprediksi akan datang lebih awal pada tahun 2026. Menurut BMKG, prediksi awal musim kemarau tersebut didasarkan pada data klimatologis selama 30 tahun terakhir, yaitu 1991-2020. Kepala BMKG, Teuku Faisal Fathani, menyatakan bahwa sekitar 46,5 persen zona musim di Indonesia diprediksi akan mengalami awal musim kemarau yang maju dari normalnya.
Dari data tersebut, sebanyak 173 zona musim diperkirakan akan mengalami awal musim kemarau sesuai dengan periode normalnya, sementara 10,3 persen zona musim diprediksi akan mengalami kemarau yang mundur dari biasanya. BMKG juga telah memprakirakan daerah-daerah tertentu di Indonesia yang diperkirakan akan memasuki musim kemarau lebih awal, seperti pesisir utara Jawa bagian barat, sebagian Jawa Tengah hingga Jawa Timur, Bali, serta Nusa Tenggara.
Deputi Bidang Klimatologi BMKG, Ardhasena Sopaheluwakan, menegaskan bahwa kemajuan awal musim kemarau tersebut berdampak pada potensi durasi kemarau yang lebih panjang. Selain itu, BMKG juga mencatat bahwa musim kemarau 2026 diperkirakan akan bersifat bawah normal atau lebih kering dari biasanya, dengan sekitar 64,5 persen zona musim mengalami curah hujan di bawah normal selama periode kemarau.
BMKG menyarankan agar langkah-langkah antisipasi perlu diambil sejak dini mengingat awal musim yang lebih cepat tersebut. Penting untuk berhati-hati terutama dalam sektor pertanian, sumber daya air, energi, lingkungan, dan kebencanaan. Dengan kondisi kemarau yang diprediksi lebih kering dari biasanya, pemerintah daerah dan pelaku sektor strategis diharapkan segera menyesuaikan perencanaan guna mengurangi risiko kekeringan dan kebakaran hutan serta lahan pada tahun 2026. Semua pihak diimbau untuk memanfaatkan informasi prediksi musim kemarau 2026 dari BMKG sebagai peringatan dini dan mengambil langkah-langkah awal yang diperlukan.


