Perang antara Iran dengan Amerika Serikat dan Israel tidak hanya terjadi di dunia nyata, tetapi juga di dunia maya melalui konten kecerdasan buatan (AI) yang mengaburkan batas antara fakta dan reakayasa. Beredar luasnya deepfake membuat publik kehilangan keyakinan terhadap informasi, bahkan video asli pun sekarang sering disalahartikan sebagai hasil dari AI. Fenomena ini menyebabkan warganet meragukan setiap bukti visual yang beredar di media sosial, seperti kontroversi seputar video Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu yang dianggap hasil dari AI.
Pertanyaan mengenai keaslian video Netanyahu yang terlihat memiliki enam jari menjadi viral di dunia maya, memunculkan perdebatan sengit tentang kemungkinan AI dalam pembuatan video tersebut. Meski sebenarnya video tersebut asli, spekulasi liar terus beredar terutama dalam situasi konflik di Timur Tengah. Para peneliti forensik digital menjelaskan bahwa “keenam jari” tersebut hanyalah ilusi cahaya yang membuat tangan Netanyahu terlihat memiliki jumlah jari yang salah.
Teknologi AI yang semakin maju mampu menghilangkan cacat visual seperti jumlah jari yang salah, namun juga memberikan dampak negatif dalam bentuk disinformasi. Ketika konflik besar terjadi, banyak konten yang dihasilkan AI mulai beredar, memperkuat krisis kepercayaan terhadap berita yang benar. Platform media sosial juga berkontribusi terhadap situasi ini dengan algoritma yang memprioritaskan konten sensasional, bahkan jika palsu.
Ketidakakuratan alat pendeteksi AI juga menimbulkan kebingungan, di mana batas antara fakta dan fabrikasi semakin kabur. Akibatnya, netizen sering kali tidak peduli terhadap akurasi visual asal makna konten tersebut “terasa nyata”. Presiden AS Donald Trump bahkan memperingatkan bahwa AI telah menjadi senjata disinformasi yang digunakan negara-negara seperti Iran. Operasi informasi yang terkoordinasi juga memanfaatkan kekacauan online untuk menyebarkan kebohongan.
Dalam situasi di mana kebenaran dan disinformasi sulit dibedakan, penting bagi pengguna internet untuk tetap waspada terhadap konten yang beredar dan berusaha memverifikasi informasi sebelum mempercayainya. Kondisi ini memperlihatkan betapa pentingnya literasi digital dalam menghadapi ancaman disinformasi yang dihasilkan teknologi AI.


