Dalam pandangan Sekretaris Jenderal Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI), Anggawira, pelemahan nilai tukar rupiah yang mencapai level Rp 17.000 per dolar Amerika Serikat (AS) menjadi perhatian serius bagi pelaku usaha. Kondisi tersebut dipercayai dipengaruhi oleh berbagai faktor global, mulai dari ketegangan geopolitik hingga penguatan dolar AS di pasar internasional. Menurut Anggawira, stabilitas nilai tukar sangat penting dalam perencanaan investasi, pengelolaan biaya produksi, dan pelaksanaan kegiatan perdagangan internasional bagi pelaku usaha. Pelemahan nilai tukar rupiah juga memiliki dampak langsung terhadap sektor usaha tertentu, terutama yang sangat bergantung pada impor bahan baku, energi, dan peralatan modal. Kenaikan harga bahan baku impor berpotensi mendorong peningkatan produksi di sektor-sektor seperti manufaktur, makanan dan minuman, elektronik, dan energi. Anggawira menekankan bahwa dunia usaha harus memperhatikan kondisi pelemahan rupiah ini dengan serius, mengingat kombinasi faktor global yang turut berperan di balik fenomena tersebut.


