Kenaikan harga smartphone di Indonesia telah mempengaruhi kebiasaan konsumen. Diperkirakan konsumen akan lebih berhati-hati dalam membeli gawai baru atau bahkan menunda pembelian ponsel baru mereka. Kenaikan harga ini dipicu oleh krisis global chip (RAM) yang terjadi pada akhir 2025. Hal ini tidak hanya berdampak pada harga ponsel, tetapi juga pada gawai lain seperti laptop.
Esther Sri Astuti, Direktur Eksekutif Institute for Development of Economics and Finance (Indef), mengatakan bahwa jika kenaikan harga terus berlanjut sementara pendapatan masyarakat menurun, masyarakat mungkin akan beralih ke pasar bekas untuk memenuhi kebutuhan mereka. Di segmen flagship, pasar produk ponsel high-end juga terpengaruh oleh kenaikan harga. Sementara itu, pasar low-end diprediksi akan mengalami penurunan spesifikasi dengan adanya kenaikan harga.
Meski demikian, pasar ponsel di Indonesia tetap besar, terutama di daerah luar Jabodetabek. Sejumlah ponsel yang dirilis pada tahun 2026 mengalami kenaikan harga di semua segmen, dari entry-level hingga flagship. Kenaikan harga bervariasi antara 10 persen hingga 25 persen, seperti yang terjadi pada Xiaomi Redmi Note 15 Series, Oppo Reno 15 Series, Samsung Galaxy S26 Series, dan Xiaomi 17 Series. Dengan adanya tren kenaikan harga ini, konsumen diharapkan lebih bijak dalam memilih pembelian smartphone mereka.


