Eskalasi konflik di Timur Tengah yang melibatkan Iran dan Israel dengan dukungan Amerika Serikat bisa berdampak serius bagi dunia usaha di Indonesia, terutama melalui sektor energi dan logistik karena adanya Selat Hormuz yang kemungkinan akan ditutup. Menurut Sekretaris Jenderal Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) Anggawira, wilayah tersebut merupakan pusat produksi energi global, sehingga gangguan apapun, termasuk penutupan Selat Hormuz, akan langsung mempengaruhi biaya produksi nasional.
Sebanyak 30% pasokan minyak dunia dan lebih dari 20% perdagangan LNG global melewati Selat Hormuz. Indonesia sendiri masih mengimpor sekitar 750–800 ribu barel minyak per hari, sehingga rentan terhadap fluktuasi harga energi global.
Anggawira menjelaskan bahwa setiap gangguan di kawasan Timur Tengah dapat menyebabkan kenaikan harga minyak mentah dunia, dengan potensi Brent melewati USD 100 per barel. Hal ini juga akan memicu peningkatan Indonesian Crude Price (ICP), meningkatkan tekanan terhadap subsidi energi dalam APBN, dan menaikkan biaya logistik dan transportasi, serta berdampak pada inflasi energi atau cost-push inflation yang akan memberatkan dunia usaha.
Tekanan ini terutama dirasakan oleh sektor manufaktur, logistik, dan UMKM yang sangat tergantung pada kelancaran rantai pasok dan stabilitas harga energi. Bagi pelaku usaha, terutama sektor manufaktur, logistik, dan UMKM, peningkatan biaya operasional, penurunan margin usaha, serta ketidakpastian dalam investasi jangka menengah adalah konsekuensi yang akan dihadapi.


