Bitcoin (BTC) telah mengalami penurunan yang signifikan dalam beberapa bulan terakhir, menarik perhatian pelaku pasar global. Nilai mata uang kripto terbesar di dunia ini telah turun lebih dari 50 persen dari puncaknya yang mencapai USD 126 ribu pada Oktober lalu, kini berada di bawah USD 64 ribu. Penurunan ini telah memicu berbagai pertanyaan di kalangan investor tentang apakah Bitcoin masih layak untuk dipertahankan, dibeli, atau dijual mengingat risiko yang semakin meningkat.
Tekanan global yang meningkat, termasuk ketegangan geopolitik dan volatilitas pasar keuangan yang tinggi, menjadi faktor utama dalam penurunan harga Bitcoin. Meskipun sebelumnya, peluncuran ETF Bitcoin spot pada Januari 2024 diharapkan akan mendatangkan modal institusional dan mendukung harga jangka panjang, namun ekspektasi pasar tidak terlalu terwujud. Bahkan sikap investor yang semakin berhati-hati dalam ekonomi yang relatif stabil juga turut mempengaruhi pergerakan harga Bitcoin.
Analisis menyatakan bahwa Bitcoin sangat sensitif terhadap perubahan sentimen dan likuiditas pasar. Ketika pasar global mengalami fase “risk-off”, aset kripto seperti Bitcoin cenderung mengalami fluktuasi harga yang jauh lebih tajam dibandingkan dengan saham atau obligasi. Hal ini membuat banyak investor ritel mulai meninjau kembali peran Bitcoin dalam portofolio mereka, terutama dengan ancaman koreksi lanjutan yang masih menghantui pasar kripto global. Keputusan untuk mempertahankan, membeli, atau menjual Bitcoin menjadi pertimbangan penting di tengah kondisi pasar yang tidak menentu.


