Starlink memasuki pasar Indonesia pada Mei 2024 dengan misi meningkatkan konektivitas di daerah terpencil. Namun, setelah lebih dari satu tahun beroperasi, performa Starlink di Indonesia menunjukkan kompleksitas yang tak terduga. OpenSignal merilis laporan terbaru mengenai perkembangan layanan Starlink di Indonesia, mengungkapkan informasi menarik terkait kecepatan internet dan perbandingannya dengan solusi lainnya seperti FWA.
Pada awal peluncurannya, Starlink menawarkan kecepatan unduh yang tinggi, yakni 42 Mbps, dan kecepatan unggah 10,5 Mbps. Namun, dalam kurun waktu satu tahun, kecepatan internet tersebut turun drastis akibat kemacetan jaringan. Meskipun begitu, Konsistensi Kualitas layanan Starlink meningkat dari 24,2% menjadi 30,9%.
Meski Starlink familiar di wilayah terpencil seperti Maluku dan Papua, FWA lebih unggul dalam aspek kecepatan unduh, konsistensi kualitas, dan pengalaman video. Layanan FWA, terutama melalui Orbit dari Telkomsel, terus berkembang pesat dengan jumlah pelanggan mencapai 1,1 juta pada tahun 2023.
Tantangan utama yang dihadapi Starlink adalah hambatan regulasi, seperti keharusan mendirikan Pusat Operasi Jaringan lokal untuk pemantauan pemerintah. Meski demikian, Starlink dipandang memiliki potensi besar dalam mendukung inklusi digital asalkan mampu memperluas kapasitas, menjaga stabilitas performa, dan berperan sebagai pelengkap FWA dan fiber, bukan sebagai pesaing langsung.
Sebagai pengguna, kita dapat memantau perkembangan selanjutnya terkait layanan Starlink di Indonesia dan bagaimana hal tersebut dapat memberikan dampak positif dalam meningkatkan konektivitas dan akses internet di berbagai wilayah, terutama yang terpencil.








