Belanja online di platform seperti Walmart dan Amazon semakin diminati oleh banyak orang karena praktis dan seringkali menawarkan harga yang lebih murah. Namun, di tengah kepraktisan tersebut, ada risiko besar yang perlu diwaspadai, yaitu munculnya barang palsu. Konsumen yang cenderung lebih memperhatikan harga dan kenyamanan daripada loyalitas merek membuat pertumbuhan online shop semakin pesat. Sayangnya, situasi ini dimanfaatkan oleh penjual nakal untuk memasarkan barang palsu.
Fenomena barang palsu bukanlah hal baru, namun dengan adanya platform digital, proses transaksi menjadi lebih mudah dan siapa pun dapat membuka toko, menjual produk dengan cepat, serta menyamarkan identitas. Hal ini memungkinkan penjual nakal untuk masuk dan menjual barang palsu dengan mudah. Seperti yang dilaporkan oleh CNBC, banyak toko non-resmi di Walmart yang mencuri identitas bisnis lain dan menjual produk palsu, terutama produk kecantikan dan kesehatan.
Data Bea Cukai Amerika Serikat menunjukkan peningkatan penjualan e-commerce dari tahun 2020 hingga 2024, namun juga disertai dengan peningkatan jumlah barang sitaan akibat pelanggaran merek dan hak cipta yang meningkat lebih dari dua kali lipat. Menghadapi kondisi ini, Walmart telah memperketat proses verifikasi penjual dan menegaskan kebijakan ‘nol toleransi’ terhadap produk terlarang. Penting bagi konsumen untuk waspada agar tidak tertipu dengan barang palsu yang beredar di online shop seperti ini.


