Amerika Serikat akan mengambil alih kendali TikTok melalui pembentukan dewan baru yang berfokus pada operasi aplikasi tersebut di Negeri Paman Sam. White House menyatakan bahwa ada tujuh kursi di dewan yang mengawasi TikTok di AS, dengan enam di antaranya diisi oleh warga Amerika. Kesepakatan ini menjadi kelanjutan dari tekanan pemerintah AS terhadap ByteDance, perusahaan induk TikTok asal China, untuk melepaskan operasinya di Amerika karena alasan keamanan nasional. Pemerintah AS bahkan telah meloloskan undang-undang yang mewajibkan ByteDance untuk menjual operasinya di AS atau menghadapi larangan total.
Presiden Joe Biden dan Kongres sangat concern terhadap potensi penggunaan data pengguna AS oleh pemerintah China serta dampak algoritma TikTok terhadap opini publik. Meskipun demikian, Presiden yang kembali jadi Donald Trump mencatat bahwa TikTok telah membantunya dalam kampanye pemilihan presidential sebelumnya. Investor besar, termasuk Oracle, perusahaan teknologi Amerika, dikabarkan bersedia mengambil alih TikTok. Kesepakatan ini memastikan bahwa data, privasi, dan algoritma TikTok akan dijalankan oleh pihak Amerika. Kesepakatan ini juga melibatkan percakapan telepon antara Trump dan Presiden China Xi Jinping, yang telah “menyetujui” kesepakatan tersebut. Selain itu, pemerintah AS berpotensi menerima biaya miliaran dolar dari investor yang menguasai TikTok. Trump menegaskan bahwa dewan baru TikTok akan diisi oleh patriot Amerika yang belum diumumkan namanya. Kesepakatan ini sedang menunggu tandatangan final.


