Sorotan saat ini tertuju pada sesar di Jawa Barat setelah serangkaian gempa mengguncang wilayah tersebut selama lebih dari seminggu. Salah satu sesar yang menjadi perhatian adalah Sesar Citarik, yang sering kali menimbulkan gempa di sepanjang wilayah Bogor hingga Sukabumi. Menurut Direktur Gempabumi dan Tsunami BMKG, Daryono, Sesar Citarik memiliki orientasi sesar arah utara barat daya – timur laut, yang memanjang melalui Pelabuhan Ratu, Bogor, hingga Bekasi. Sesar ini diperkirakan telah aktif selama belasan juta tahun dan masih berpotensi aktif hingga saat ini.
Beberapa kejadian gempa signifikan di wilayah tersebut diduga dipicu oleh aktivitas sesar ini, seperti Gempa Sukabumi dan Bogor pada tahun 1900, 1975, 2000, dan gempa terbaru pada Maret 2020. Gempa-gempa ini telah menimbulkan kerusakan yang cukup signifikan di beberapa wilayah, seperti Bogor. Fenomena gempa ini banyak dihubungkan dengan aktivitas Sesar Citarik, yang juga diduga menjadi penyebab gempa dahsyat yang melanda Kota Bogor pada tahun 1834.
Daryono menjelaskan bahwa gempa terbaru di Bogor pada April 2025 dengan kekuatan M4,1 adalah gempa tektonik kerak dangkal dengan episenter di Kota Bogor. Gempa ini dipicu oleh aktivitas sesar aktif dengan mekanisme sumber sesar geser. Bukti-bukti dalam gelombang gempa dan suara gemuruh serta dentuman menunjukkan bahwa gempa ini memiliki kedalaman yang sangat dangkal. Gempa ini, meskipun tidak terlalu merusak, memberikan peringatan bahwa Sesar Citarik memiliki potensi untuk menimbulkan gempa kuat di wilayah tersebut.
Dengan begitu, perencanaan pengembangan infrastruktur di wilayah Jabodetabek dan Sukabumi harus mempertimbangkan potensi gempa dari Sesar Citarik. Hal ini diperlukan untuk menjaga ketahanan wilayah terhadap bencana alam yang mungkin timbul akibat aktivitas sesar ini.


