BREAKING NEWS ⚡
Home / Tekno / Mengapa Penerbangan Berhenti Saat Erupsi Gunung Anak Krakatau?
Tekno

Mengapa Penerbangan Berhenti Saat Erupsi Gunung Anak Krakatau?

07/09/202602:15 WIB◉ 56 views

8 Bandara Berhenti Beroperasi Sementara Akibat Erupsi Gunung Anak Krakatau

Jakarta, CNN Indonesia — Sebanyak 8 bandar udara, mulai dari Bandara Soekarno Hatta hingga Bandara Radin Inten II Lampung, menghentikan sementara operasionalnya imbas erupsi Gunung Anak Krakatau pada Minggu (6/9). Hal ini disebabkan oleh potensi dampak abu vulkanik pada pesawat yang bisa membahayakan keselamatan penerbangan.

Abu Vulkanik: Ancaman bagi Keselamatan Penerbangan

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyatakan bahwa erupsi gunung api menghasilkan abu vulkanik, material halus yang dapat terbawa angin dengan jarak yang cukup jauh. Abu vulkanik ini berpotensi memengaruhi berbagai aspek, mulai dari kesehatan masyarakat, kualitas udara, hingga sektor transportasi dan penerbangan.

Dalam unggahannya di Instagram pada Minggu (6/9), BMKG menjelaskan bahwa salah satu dampak abu vulkanik pada penerbangan adalah dapat mematikan mesin pesawat. Partikel abu vulkanik yang mengandung serpihan kaca dan batuan tajam dapat meleleh dan menyumbat mesin pesawat, mengakibatkan mati mesin yang berpotensi fatal.

Selain itu, abu vulkanik juga dapat mengurangi jarak pandang pilot karena gesekan partikel abu vulkanik dapat mengikis kaca kokpit pesawat dan mengganggu sistem navigasi pesawat dengan menyumbat sensor kecepatan dan ketinggian pesawat.

Sebaran Abu Vulkanik Gunung Anak Krakatau

Abu vulkanik terbentuk saat gunung api meletus secara eksplosif dan tersusun dari pecahan batuan, mineral, dan kaca vulkanik berukuran sangat kecil. Ukurannya yang halus memungkinkan abu terbawa angin hingga ratusan kilometer dari lokasi erupsi.

Berdasarkan informasi dari PVMBG dan VAAC Darwin per Minggu (6/9), sebaran abu vulkanik Gunung Anak Krakatau terbagi menjadi dua: yang bergerak ke arah timur laut-selatan hingga mencakup sebagian DKI Jakarta, Banten, dan Jawa Barat, serta sebaran kedua yang bergerak ke arah barat daya – barat laut hingga mencakup sebagian Banten, Lampung, Bengkulu, Selat Sunda bagian Selatan, serta Samudra Hindia di sebelah barat Bengkulu-Lampung-Banten.

Source link