Annual Dinner Paseban Foundation Perkuat Komitmen untuk Masa Depan Biosfer

Dalam upaya memperkuat jaringan kolaboratif lintas sektor, Paseban Foundation terus memperkaya perannya sebagai penghubung antara praktik konservasi di lapangan dan pengelolaan pengetahuan yang berdampak luas.
Perayaan Annual Dinner 2026, yang bertepatan dengan Hari Konservasi Alam Nasional serta dua tahun berdirinya Yayasan, menjadi simbol dedikasi Paseban Foundation dalam membina sinergi lintas batas. Kegiatan tahunan ini terbukti mempertemukan para pemangku kepentingan yang terdiri dari institusi pemerintah, dunia akademis, lembaga internasional, pelaku usaha, organisasi masyarakat, serta berbagai tokoh publik hingga pemuda.
Tema besar “Partnership in Cultivating and Stewarding the Biosphere Reserve” yang diusung menegaskan perlunya keterpaduan peran semua pihak untuk melestarikan Bentang Alam Megamendung sebagai bagian dari Cagar Biosfer Cibodas, yang esensial keberlanjutannya melalui kerja bersama.
Paseban Foundation menegakkan prinsip keberlanjutan konservasi dengan membangun ruang kerja yang menghubungkan lembaga pemerintah, bisnis, penggiat lingkungan, dan komunitas, sembari memberikan tempat regenerasi bagi generasi muda untuk meneruskan estafet konservasi.
Andy Utama sebagai pendiri sekaligus pembina menekankan bahwa tanggung jawab konservasi tidak dapat diampu oleh satu individu atau dalam satu kepemimpinan semata, melainkan membutuhkan kesinambungan dan warisan ke generasi penerus. Dengan menciptakan ekosistem kolaboratif, Paseban Foundation mengedepankan model kerja yang saling melengkapi, bukan saling menggantikan.
Konservasi yang dijalankan berakar dari pengalaman lapangan dan memprioritaskan perlindungan habitat, rehabilitasi ekosistem, serta penanaman pohon lokal yang jumlahnya telah melebihi 21 ribu bibit dari berbagai spesies. Selain konservasi in-situ, upaya konservasi ex-situ juga dikembangkan lewat penangkaran satwa seperti burung dan mamalia, membuahkan hasil berupa kelahiran anak rusa. Pemantauan keanekaragaman hayati secara sistematis dilakukan dengan survei, pengamatan lapangan dan pemasangan kamera jebak.
Wahdi Azmi, Direktur Eksekutif Paseban Foundation, mengungkapkan bahwa keberadaan lima spesies primata Jawa di satu kawasan merupakan bukti pentingnya kawasan Megamendung sebagai pusat konservasi hayati yang vital. Selain itu, satwa langka lainnya seperti Elang Jawa dan Macan Tutul Jawa juga ditemukan di kawasan ini, menandakan kualitas lingkungannya yang tinggi meski berada di Pulau Jawa yang terpadat di Indonesia.
Tidak hanya berfokus pada tindakan langsung di lapangan, Paseban Foundation juga mengintegrasikan data, temuan dan pembelajaran menjadi pengetahuan strategis. Informasi tersebut diproses untuk mendukung riset, pendidikan, advokasi, hingga pengambilan kebijakan publik, sehingga peran yayasan berkembang menjadi institusi pengetahuan yang mampu menjembatani ilmu dengan kebijakan konkret.
Peluncuran buku “Lens Chronicle 1: Biodiversity of Paseban” serta “Kepemimpinan Bentang Alam” dan penayangan perdana film dokumenter “The Silent Resilience” merupakan bagian dari komitmen lembaga dalam mendistribusikan wawasan yang diolah dari pengalaman nyata di lapangan.
Seluruh rangkaian kegiatan seperti survei biodiversitas, penelitian, dokumentasi visual, produksi buku, film, hingga pendidikan dikembangkan untuk membangun satu ekosistem pengetahuan yang saling memperkuat.
Tujuan utama dari upaya tersebut adalah menjadikan temuan lapangan sebagai sumber inspirasi yang dapat memperluas kesadaran publik dan memperkuat argumentasi kolaborasi lintas sektor.
Apresiasi juga datang dari jajaran pemerintah, seperti Wakil Menteri Komunikasi dan Digital, Nezar Patria, yang menilai bahwa pengolahan dan diseminasi data hasil konservasi harus diperluas agar menjadi bagian dari wacana bersama. Menurutnya, Paseban Foundation berpotensi besar sebagai jembatan yang menghubungkan berbagai kekuatan untuk mendukung pelestarian Cagar Biosfer Cibodas.
Indra Exploitasia dari Kementerian Kehutanan turut menekankan peran penting generasi muda sebagai penerus estafet dalam menjaga keberlanjutan lingkungan. Ia menegaskan bahwa regenerasi harus dipastikan agar pekerjaan konservasi tidak terhenti dengan berakhirnya masa tugas generasi senior.
Kebutuhan akan kepemimpinan lintas batas juga diamini oleh Wiratno, Penasihat Paseban Foundation, yang menyatakan bahwa keragaman kepentingan dalam sebuah bentang alam mensyaratkan model kolaborasi yang mampu menyatukan semua unsur, baik air, hutan, maupun manusia.
Melalui perpaduan kolaborasi multipihak, pengalaman langsung, serta tata kelola pengetahuan, Paseban Foundation terus memperkokoh institusi untuk memastikan bahwa penjagaan Megamendung tidak hanya berhenti pada satu generasi ataupun program, namun menjadi proses jangka panjang berbasis regenerasi dan kerja sama. Upaya berkelanjutan ini diharapkan akan terlestari lewat kolaborasi serta penguatan kapasitas lintas generasi demi masa depan ekosistem yang lebih lestari.
Sumber: 21.831 Pohon Ditanam Di Megamendung, Paseban Foundation Siapkan Konservasi Hingga Generasi Berikutnya
Sumber: 21.831 Pohon Ditanam, Upaya Menjaga Biodiversitas Megamendung Terus Berlanjut




