Andy Utama Soroti Pentingnya Transfer Pengalaman Lapangan dalam Konservasi

Membangun masa depan konservasi di Bentang Alam Megamendung merupakan tantangan besar yang harus dipikul secara estafet oleh banyak generasi, bukan hanya oleh pendiri atau generasi awal saja. Dalam upaya konservasi, keberlanjutan sangat bergantung pada adanya regenerasi, karena pemulihan lingkungan tak pernah selesai dalam hitungan tahun ataupun dekade.
Pesan mengenai pentingnya penerus dalam misi konservasi ini menjadi sorotan pada peringatan dua tahun Paseban Foundation, yang jatuh bersamaan dengan Hari Konservasi Alam Nasional. Andy Utama sebagai pendiri Paseban Foundation menekankan bahwa sejak awal organisasi itu dibentuk agar kerja konservasi di Megamendung dapat berlanjut hingga jauh melewati masa hidup siapapun yang memulainya.
Melalui Megamendung Century Initiative, organisasi ini mengusung misi pemulihan ekosistem yang menuntut orientasi waktu yang sangat panjang, bahkan berpuluh atau beratus tahun ke depan. Konsep ini menempatkan program konservasi bukan sebagai proyek sesaat, melainkan sebagai warisan yang harus dilanjutkan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Setiap pencapaian menjadi batu loncatan bagi kelanjutan perjuangan, bukan titik akhir.
Di tengah tuntutan waktu yang panjang, proses regenerasi mulai tampak dengan keterlibatan Fifi, putri Andy Utama, dalam aktivitas Paseban Foundation. Namun, regenerasi bukan sekadar soal keluarga semata. Diperlukan transfer pengalaman, kearifan lapangan, jejaring, hingga kapasitas kepemimpinan bagi calon penerus agar konservasi bisa terus bergerak maju dan mampu menghadapi tantangan sosial, ekonomi, serta institusional yang kompleks.
Kompleksitas itulah yang membuat generasi muda perlu mendapat kesempatan untuk belajar dan terjun langsung ke dalam kegiatan konservasi. Hal itu juga ditekankan perwakilan Kementerian Kehutanan, Indra Exploitasia, yang menyatakan bahwa kaum muda mesti memperoleh ruang besar untuk berkembang dan mempersiapkan diri menggantikan kelompok senior. Regenerasi bukan hanya urusan personil, melainkan bagian dari syarat agar konservasi tetap dapat berjalan berkelanjutan.
Keberlanjutan konservasi juga harus didukung oleh kombinasi beragam aktivitas, mulai dari kerja lapangan, pendidikan, penelitian, penyebaran pengetahuan, hingga pengelolaan sumber daya organisasi. Paseban Foundation, sebagai contoh, menggabungkan pendekatan-pendekatan tersebut, termasuk dengan meluncurkan buku “Lens Chronicle 1: Biodiversity of Paseban” dan buku kepemimpinan bentang alam, sekaligus menyelenggarakan pemutaran film dokumenter mengenai perjalanan konservasi di Megamendung. Dokumentasi ini menjadi cara efektif memperluas pengetahuan tentang hubungan antara hutan, air, masyarakat, dan ekonomi kepada khalayak luas.
Tantangan keberlanjutan juga tampak dalam hal pembiayaan. Pengelolaan konservasi yang konsisten menuntut solusi ekonomi yang sejalan dengan pelestarian lingkungan, salah satunya melalui pertanian organik. Dalam pengalaman Andy, upaya konservasi juga berarti memastikan para pelaku di lapangan mendapat penghidupan layak, dan selama 13 tahun berturut-turut pertanian organik yang dikelolanya telah lulus audit sertifikasi. Ini menunjukkan upaya membangun kesinambungan konservasi butuh manajemen organisasi yang berkelanjutan, bukan sekadar ganti kepemimpinan.
Pentingnya penyebarluasan informasi juga diangkat dalam pertemuan tahunan tersebut oleh Nezar Patria, Wakil Menteri Komunikasi dan Digital. Beliau menyebut teknologi bisa mendorong keterlibatan publik dalam percakapan mengenai konservasi serta menyebarluaskan pengetahuan yang terhimpun di lapangan, walaupun pengembangan teknologi harus tetap memperhatikan dampak ekologis.
Suatu kolaborasi lintas pihak memang sangat dibutuhkan dalam mengelola suatu kawasan yang melibatkan banyak kepentingan seperti Megamendung. Namun, kehadiran berbagai pemangku kepentingan di satu acara belum otomatis menjadi jaminan kolaborasi jangka panjang. Diperlukan konsistensi peran, dukungan, serta komitmen bersama agar pekerjaan konservasi bisa melebihi umur organisasi ataupun generasinya.
Paseban Foundation tidak dibangun untuk memonopoli tanggung jawab konservasi; organisasi ini diharapkan bisa menjadi ruang temu sekaligus wadah pembelajaran dan penyaluran tanggung jawab lintas generasi. Visi utamanya adalah memastikan upaya pemulihan bentang alam bisa diteruskan bahkan oleh generasi yang belum lahir saat inisiatif dimulai. Warisan sesungguhnya tidak hanya berupa kawasan yang lebih lestari, melainkan juga jaringan pengetahuan, kelembagaan yang kuat, dan orang-orang yang mencintai serta siap menjaga kelangsungan konservasi.
Sumber: Paseban Foundation Siapkan Regenerasi Konservasi Megamendung Lintas Generasi
Sumber: Paseban Foundation Siapkan Konservasi Megamendung Lintas Generasi




