Ilmuwan Tingkatkan Prediksi Badai dengan Lirik Hiu

Ilmuwan Manfaatkan Hiu untuk Prediksi Badai
Jakarta, CNN Indonesia — Ilmuwan kini beralih ke kawanan hiu di lautan sebagai cara baru untuk meningkatkan akurasi prediksi badai. Para peneliti dari University of Delaware telah mulai melengkapi hiu dengan sensor khusus guna mengukur kondisi samudra secara real-time sebelum badai menghantam pesisir timur Amerika Serikat.
Hiu Sebagai Pengamat Samudra
Hiu, yang sering digambarkan sebagai sosok menakutkan dalam film-film, dialihfungsikan oleh para peneliti untuk membawa perangkat sensor elektronik kecil pada sirip punggung mereka. Perangkat yang disebut CTD tags ini bekerja dengan merekam konduktivitas listrik air untuk mengukur salinitas, suhu, dan kedalaman laut saat hiu menyelam.
Data yang terkumpul kemudian otomatis dikirim ke jaringan satelit setiap kali hiu muncul ke permukaan air. Dengan demikian, hiu berperan sebagai pengamat samudra bergerak yang membantu dalam memprediksi badai.
Mengukur Suhu Lapisan Teratas Samudra
Penelitian ini difokuskan pada pengukuran suhu lapisan teratas samudra yang menjadi penentu utama intensitas badai. Semakin hangat lapisan campuran ini, semakin kuat pula badai yang terbentuk karena area tersebut menyimpan panas yang memberi energi pada badai.
Jenis hiu di Atlantik Utara seperti hiu mako sirip pendek, hiu biru, hiu martil halus, dan hiu putih besar berusia muda dipilih untuk misi ini karena kebiasaan mereka yang sering muncul ke permukaan sehingga transmisi data ke satelit berjalan lancar.
Proses penempelan sensor dimulai setiap awal Mei saat hiu berimigrasi mendekati pesisir. Peneliti menyebutkan bahwa hiu-hiu tersebut kini bekerja hampir seperti pegawai kantor yang mencatat jam kerja dan laporan suhu harian.
Data samudra yang terkumpul dari tubuh hiu diharapkan dapat membantu meningkatkan prediksi cuaca serta ketahanan masyarakat pesisir mulai dari North Carolina hingga Massachusetts dalam menghadapi ancaman badai yang semakin ekstrem.




