BREAKING NEWS
Home / Tekno / Pakar BRIN Ungkap Penyebab Sulitnya Memadamkan Kebakaran TPA Jatiwaringin
Tekno

Pakar BRIN Ungkap Penyebab Sulitnya Memadamkan Kebakaran TPA Jatiwaringin

10/07/202620:00 WIB◉ 25 views

Jakarta, CNN Indonesia — Peneliti Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengungkap bahwa penyebab kebakaran di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Jatiwaringin sulit dipadamkan karena adanya api di bawah permukaan yang sulit dijangkau air.

Api Sulit Padam di Bawah Permukaan

Masalah ini diungkapkan oleh Wahyu Purwanta, Peneliti Ahli Utama Pusat Riset Teknologi Lingkungan dan Teknologi Bersih BRIN. Menurutnya, titik api di bawah permukaan mengalami kesulitan karena air sulit mencapai titik panas tersebut, sehingga diperlukan bantuan alat berat untuk memadamkannya.

Wahyu menjelaskan bahwa kondisi kebakaran TPA serupa dengan kebakaran lahan gambut di mana api tidak terlihat di permukaan, tetapi asap terus mengepul. Setiap TPA memiliki risiko kebakaran, terutama saat musim kemarau yang memperparah situasi.

Risiko Kebakaran dan Pengelolaan Sampah

Menurut Wahyu, risiko kebakaran di TPA perlu dikenali lebih awal melalui perbaikan operasi, pemantauan timbunan, deteksi hotspot, hingga kesiapsiagaan yang ditingkatkan pada musim kemarau. Pemerintah daerah juga perlu memiliki rencana jelas untuk mengurangi sampah yang masuk ke TPA.

Wahyu menegaskan bahwa kebakaran terjadi ketika tiga unsur bertemu, yaitu bahan bakar, oksigen, dan sumber panas. Di TPA, bahan bakar yang mudah terbakar berasal dari sampah plastik, kertas, dan material organik lainnya. Oksigen dan sumber panas juga memainkan peran penting dalam terjadinya kebakaran.

Lebih lanjut, Wahyu mengatakan bahwa tidak semua teknologi cocok untuk mengelola semua jenis sampah. Dibutuhkan pendekatan yang tepat berdasarkan karakteristik sampah, skala timbulan, dan kondisi wilayah setempat.

Untuk mengurangi sampah organik, teknologi pengomposan, biodigester, atau anaerobic digestion dapat menjadi solusi. Material yang masih bernilai juga perlu dipilah dan didaur ulang untuk mengurangi dampak negatif lingkungan.

Source link