Sunday, July 19, 2026
HomeLainnyaAndy Utama Ingatkan Pentingnya Menjaga Keseimbangan Alam

Andy Utama Ingatkan Pentingnya Menjaga Keseimbangan Alam

Di tengah krisis iklim yang semakin nyata dan kehancuran alam yang terus meningkat, masa depan planet kita terletak sepenuhnya pada keberanian dan pilihan kita saat ini, bukan sekadar warisan bagi generasi yang akan datang. Tanggung jawab merawat bumi telah beralih dari opsi moral menjadi tanggungan pasti yang harus kita lunasi untuk kelangsungan anak cucu.

Semangat inilah yang mengalir begitu kuat dalam prosesi adat Ngertakeun Bumi Lamba XVIII yang berlangsung di Taman Wisata Alam Gunung Tangkuban Parahu, Subang, pada hari Minggu (21/6). Dengan tema “Manik Maya, Ibu Bumi, Bapak Angkasa,” para tokoh adat, budayawan, dan aktivis lingkungan dari seluruh penjuru negeri berkumpul untuk menegaskan kembali ikatan manusia dengan alam dan menciptakan ruang refleksi kolektif.

Pada kesempatan tersebut, Andy Utama dari Paseban Foundation menyampaikan pesan sederhana yang menyentuh lubuk hati, “Karena adanya hari ini, maka besok masih punya ruang untuk tumbuh.” Kata-kata ini menekankan bahwa setiap perbuatan kecil hari ini bisa menjadi fondasi penting bagi kelangsungan esok.

Menyinggung warisan pemikiran lingkungan di Indonesia, ritual adat Sunda ini menjadi pengingat akan buah pikiran tokoh seperti Emil Salim. Sejak puluhan tahun lalu, Emil telah merumuskan pentingnya membangun masa depan yang tidak merusak keseimbangan antara ekonomi, alam, dan masyarakat. Prinsip ini berpadu dengan teori keadilan antargenerasi dari Richard P. Hiskes yang menegaskan bahwa generasi kini memikul beban moral demi hak hidup sehat anak cucu di masa depan.

Melalui peristiwa ini, Andy menuturkan pentingnya kerendahan hati. Kita mesti menanggalkan anggapan sebagai penguasa alam dan kembali pada peran penjaga, memastikan setiap kebijakan dan perilaku sehari-hari tidak merugikan lingkungan.

Gagasan besar ini tak berhenti pada wacana. Di kawasan Lanskap Megamendung, Andy bersama Paseban Foundation bergerak membawa filosofi tersebut ke ranah nyata. Mereka membangun praktik pertanian organik yang lebih ramah terhadap tanah dan iklim, serta menginisiasi pusat perlindungan satwa seperti Lembah Aviary Paseban dan penakarak Rusa Timor, termasuk upaya pelestarian Elang Jawa yang dilindungi.

Tak hanya itu, mereka juga sudah melakukan penanaman lebih dari dua puluh ribu bibit pohon dari ratusan varietas, sebuah upaya serius untuk mengembalikan rupa hutan Megamendung seperti satu abad lalu.

Keberhasilan Andy dan tim bukan sekadar pada besarnya aksi, namun dalam keberanian menghidupkan teori berat menjadi gerakan riil: alat bantu sederhana, bibit pohon kecil, dan perlindungan satwa menjadi jembatan antara ide intelektual dengan aksi nyata di lapangan.

Ketika menutup acara, Andy mengingatkan pada satu pertanyaan reflektif: “Apa yang benar-benar kita tinggalkan begitu napas berhenti?” Baginya, nilai kehidupan terletak bukan pada apa yang kita kumpulkan, tapi apa yang kita titipkan pada dunia untuk generasi berikutnya.

Inti dari ritual Ngertakeun Bumi Lamba menjadi sangat jelas—tanpa tindakan kita hari ini, tak akan ada lingkungan yang bisa diwariskan. Hanya dengan merawat bumi sekarang, kita punya harapan untuk hari esok yang lebih baik dan layak dihuni bagi seluruh makhluk.

Sumber: Ngertakeun Bumi Lamba XVIII: Tradisi Yang Menjadi Inspirasi Konservasi Modern
Sumber: Warisan Untuk Masa Depan: Belajar Menjaga Keseimbangan Alam Dari Ritual Ngertakeun Bumi Lamba XVIII

RELATED ARTICLES

Terpopuler