Daya Beli Kelas Menengah Tertekan: Ekonom Ungkap Pemicunya
Tekanan Peningkatan Biaya Hidup
Kepala Pusat Makroekonomi Institute for Development of Economic and Finance (Indef), Rizal Taufikurrahman, mengungkapkan pandangannya bahwa daya beli masyarakat kelas menengah saat ini mengalami tekanan. Kelompok ini, yang tidak menerima subsidi, merasakan beban tambahan akibat peningkatan biaya-biaya harian.
Rizal menyoroti beberapa faktor utama yang membuat kelas menengah semakin tertekan, antara lain pelemahan nilai tukar rupiah, kenaikan harga pangan, penyesuaian harga BBM nonsubsidi, dan penyesuaian suku bunga Bank Indonesia (BI). Biaya tambahan untuk BBM menjadi salah satu faktor utama yang membebani kelas menengah.
“Bagi pekerja komuter yang mengonsumsi 40-60 liter per bulan, pengeluaran tambahan bisa mencapai Rp 158 ribu-Rp 237 ribu per bulan,” ungkap Rizal.
Biaya Kredit yang Meningkat
Kenaikan BI Rate menjadi 5,50 persen juga membuat biaya kredit semakin tinggi. Penyesuaian ini terjadi ketika tingkat inflasi mencapai 3,08 persen. Dampaknya, daya beli dari kelompok pekerja dan rumah tangga kelas menengah dengan pendapatan tetap terdampak signifikan.
“Kelompok ini umumnya bukan penerima bantuan sosial, namun harus menghadapi kenaikan biaya transportasi, pangan, cicilan, pendidikan, dan kebutuhan lainnya,” jelas Rizal.
“Sebagai akibatnya, konsumsi akan bergeser dari belanja sekunder seperti rekreasi, otomotif, dan elektronik ke kebutuhan pokok, sehingga sektor ritel dan jasa berpotensi melambat,” tambahnya.
Tekanan Ganda dari Kenaikan Harga
Rizal menjelaskan bahwa kenaikan harga BBM nonsubsidi dan suku bunga dapat menjadi tekanan ganda bagi kelas menengah. Dengan biaya mobilitas yang meningkat di satu sisi, sementara bunga kredit untuk rumah, kendaraan, dan modal usaha ikut naik di sisi lain.
“Jika tekanan ini berlanjut dalam jangka waktu yang lama, risiko kemunduran kelas menengah semakin besar karena banyak rumah tangga berada pada posisi rentan, tidak cukup miskin untuk menerima bantuan tetapi juga tidak memiliki kestabilan keuangan yang cukup untuk menghadapi lonjakan biaya hidup,” tutur Rizal.


