Jakarta, CNN Indonesia – ‘Kiamat iklim’ atau krisis iklim terparah sepanjang sejarah semakin dekat bagi seluruh kehidupan di muka bumi. Tanda-tanda tersebut mulai muncul di perairan Atlantik utara, tepatnya di sebelah selatan Pulau Greenland dan Islandia.
Di saat rata-rata suhu seluruh permukaan laut bumi naik, suhu udara di perairan tersebut malah turun atau mendingin. Para ahli pun menemukan jawaban anomali tersebut sebagai tanda-tanda yang amat mengkhawatirkan ke depan sebagai krisis iklim yang paling parah.
Pendinginan Perairan Atlantik Utara
Gejala pendinginan hamparan laut di sebelah selatan Greenland dan Islandia dijuluki sebagai “gumpalan dingin” atau “lubang pemanasan” yang telah mendingin hampir 1 derajat Celsius sejak tahun 1900.
Para ilmuwan menemukan bahwa penyebab pendinginan tersebut adalah melemahnya sistem arus laut penting yang mengangkut panas. Kemungkinan ini menunjukkan masa depan yang mengkhawatirkan.
AMOC dan Dampaknya
Gejala alam The Atlantic Meridional Overturning Circulation (AMOC) yang mengangkut air hangat dari daerah tropis ke Belahan Bumi Utara, mendingin, tenggelam, dan kembali mengalir ke selatan, bekerja seperti sabuk konveyor laut yang luas. Pemanasan global mengakibatkan perubahan pada sistem ini dan mengganggu keseimbangan panas dan salinitas AMOC.
Perubahan pada AMOC memiliki dampak global yang signifikan, seperti percepatan kenaikan permukaan laut di Pantai Timur AS, musim dingin membekukan Eropa, dan menggeser monsun di Afrika yang menyebabkan kekeringan.
Studi terbaru menunjukkan bahwa AMOC melemah dan gumpalan dingin di perairan Atlantik Utara merupakan salah satu konsekuensinya. Penelitian tersebut menggabungkan data panas laut dunia nyata dengan model iklim untuk memahami fenomena ini.
Para ilmuwan menekankan pentingnya pemahaman lebih lanjut terkait dampak dari hipotesis ini untuk menyusun langkah-langkah mitigasi krisis iklim global yang semakin mendesak.


