Respons Terkoordinasi Otoritas Diperlukan untuk Memulihkan Kepercayaan Investor
Senior Technical Analyst Mirae Asset Sekuritas Indonesia M Nafan Aji Gusta menilai respons terkoordinasi dari otoritas diperlukan untuk memulihkan kepercayaan investor dan menjaga stabilitas pasar keuangan di tengah tekanan terhadap rupiah dan IHSG yang masih berlangsung.
Rupiah Melemah dan IHSG Terus Koreksi Tajam
Nilai tukar rupiah terus melemah hingga mencetak rekor psikologis baru di level 18.000 per dolar AS. Sementara itu, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melanjutkan koreksi tajam dengan penurunan 3,48 persen pada penutupan sesi I perdagangan.
Langkah yang Perlu Dilakukan Otoritas
Dikutip dari Antara, Nafan mengatakan bahwa Bank Indonesia (BI) perlu melakukan intervensi yang lebih agresif di pasar valuta asing (valas) dan Surat Berharga Negara (SBN) guna menjaga stabilitas rupiah. Pemerintah juga perlu memperkuat kebijakan insentif devisa hasil ekspor (DHE) untuk meningkatkan pasokan devisa di dalam negeri.
Klarifikasi dan Optimasi Peran Pembeli Siaga
Danantara perlu memberikan klarifikasi terkait kebijakan operasional serta isu sektoral yang berkembang guna meredam ketidakpastian di pasar. Kementerian BUMN dan OJK juga dinilai perlu mengoptimalkan peran pembeli siaga (standby buyer) serta program buyback saham BUMN untuk menjaga likuiditas dan kepercayaan investor. BEI juga perlu menerapkan mekanisme auto rejection yang simetris maupun asimetris secara terukur guna menjaga keteraturan perdagangan dan meredam volatilitas pasar yang berlebihan.
Dalam risetnya, Nafan mencatat bahwa secara teknikal IHSG sebenarnya telah berada dalam kondisi extremely oversold berdasarkan indikator Relative Strength Index (RSI), meskipun downtrend masih berlangsung. Sementara itu, Stochastics K-D masih menunjukkan sinyal negatif, namun volume transaksi mulai menguat.


