Protes petani terhadap impor gula rafinasi yang membanjiri pasar tanah air menimbulkan kebingungan di kalangan konsumen. Mereka kesulitan membedakan antara gula impor dan gula kristal putih lokal karena adanya kemiripan, terutama dari segi warna. Namun, ironisnya, harga molase, salah satu produk sampingan dari tebu, justru merosot drastis hingga Rp1.000 per liter pada bulan Maret 2026.
Permasalahan Harga Molase
Situasi ini menjadi persoalan serius bagi petani tebu di Tanah Air. Harga molase yang terus merosot dari Rp1.900 per liter menjadi Rp900 per liter sangat memukul petani lokal. Meskipun Indonesia masih memperhitungkan produksi sendiri, namun kenyataannya produksi lokal tidak mampu bersaing dengan impor. Hal ini menunjukkan ketidakseimbangan yang mengganggu dalam industri gula nasional.
Proyeksi Panen Tebu 2025
Berdasarkan proyeksi untuk tahun 2025, luas panen tebu eksisting diperkirakan mencapai 563.357 hektare. Produktivitas dalam bentuk Gula Kristal Putih (GKP) sekitar 4,74 ton per hektare, atau setara dengan 69,35 ton tebu per hektare. Dari proyeksi tersebut, produksi GKP seharusnya mencapai 2,67 juta ton. Namun, kebutuhan gula nasional diperkirakan mencapai 6,7 juta ton, terdiri dari 2,8 juta ton gula konsumsi dan 3,9 juta ton gula industri. Hal ini mengindikasikan adanya kesenjangan produksi yang perlu segera diatasi agar kemandirian gula nasional dapat tercapai.


