Friday, June 12, 2026
HomeTeknoBibit Siklon Tropis 96W: Dampak Aktifnya di RI

Bibit Siklon Tropis 96W: Dampak Aktifnya di RI

Bibit Siklon Tropis 96W Muncul di Wilayah Timur Indonesia

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) kembali mengeluarkan peringatan terkait perkembangan Bibit Siklon Tropis 96W di wilayah timur Indonesia. Bibit siklon ini telah terbentuk sejak 12 Mei 2026 dan telah memicu gelombang tinggi di sekitar perairan sekitarnya.

Pusat Sirkulasi dan Perkiraan Perkembangan

Berdasarkan pantauan BMKG, pusat sirkulasi Bibit Siklon Tropis 96W berada di sekitar 9.6°Lintang Selatan 139.4°Bujur Timur, tepatnya di Samudra Pasifik utara Papua. Kecepatan angin maksimum yang terpantau saat ini mencapai 20 knot (37 km/jam) di kuadran timur sistem, dengan tekanan udara minimum 1007 hPa.

Perkembangan Aktivitas Siklonik

Analisis BMKG menunjukkan bahwa aktivitas konvektif Bibit Siklon Tropis 96W bersifat fluktuatif dalam 12 jam terakhir. Meskipun terjadi penurunan aktivitas konvektif, sebaran awan konvektif masih cukup masif dengan struktur yang terorganisir baik. Konveksi mendung yang dalam terlihat mulai berkembang kembali di sebelah utara pusat sistem.

Berdasarkan faktor pendukung seperti gelombang Ekuatorial Rossby, suhu muka laut yang hangat, kelembaban udara yang relatif basah, serta faktor lingkungan lainnya, Bibit Siklon Tropis 96W mendapat dukungan untuk perkembangan lebih lanjut. Meski demikian, masih terdapat faktor penghambat seperti massa udara kering di sekitar sistem dan kurangnya suplai angin kuat yang dapat mempengaruhi perkembangan siklon.

Perkiraan Ke Depan dan Potensi Dampak

BMKG memprediksi bahwa dalam 24 jam ke depan, Bibit Siklon Tropis 96W akan tetap persisten dengan kecepatan angin maksimum 20 knot dan tekanan udara minimum 1006 hPa. Sistem ini diperkirakan akan bergerak ke arah barat laut. Namun, dalam 48 jam ke depan, sistem ini cenderung melemah.

Secara umum, Bibit Siklon Tropis 96W memiliki peluang rendah untuk menjadi siklon tropis dalam 24-48 jam ke depan. Meski begitu, potensi dampak tidak langsung masih bisa dirasakan, terutama terkait dengan gelombang laut di sekitar wilayah seperti Laut Maluku bagian utara dan Samudra Pasifik Utara Maluku hingga Papua.

Source link

RELATED ARTICLES

Terpopuler