Wednesday, May 13, 2026
HomeLainnyaMahasiswa Diajak Memahami Risiko Konflik Global Secara Mendalam

Mahasiswa Diajak Memahami Risiko Konflik Global Secara Mendalam

Isu terkait potensi munculnya perang dunia baru kerap menjadi topik pembicaraan hangat, baik di ruang diskusi virtual maupun percakapan sehari-hari. Kekhawatiran ini mencerminkan keresahan publik terhadap dinamika global yang semakin sulit diprediksi dan menjadi perhatian utama dalam acara IR Youth Talks#1. Acara yang digelar oleh AIHII Chapter Jabodetabek ini berlangsung di Auditorium Suwantji Sisworahardjo FISIP UI pada 21 April 2026, mengajak peserta menelaah posisi Indonesia di tengah perubahan geopolitik dunia.

Pembukaan forum dilakukan oleh Anggy Pasaribu, alumni Hubungan Internasional Universitas Pelita Harapan dan pendiri “Story of Anggy”. Ia menggugah peserta dengan mempertanyakan dasar kekhawatiran publik terkait kemungkinan terjadinya perang dunia, membuka ruang dialog rasional seputar dinamika global tanpa larut dalam kecemasan berlebihan.

Alih-alih mendorong peserta mencari jawaban pasti, Anggy mengajak hadirin mendalami permasalahan global dengan kritis dan objektif. Ia menekankan pentingnya berpikir komprehensif sebelum memberikan penilaian atau sampai pada kesimpulan prematur.

Dalam forum tersebut, Brigjen TNI Aloysius Nugroho Santoso dari Lemhannas RI menegaskan bahwa spekulasi terkait pecahnya perang dunia sebaiknya tidak menjadi fokus utama generasi muda. Ia menyarankan agar perhatian beralih pada upaya membangun ketangguhan nasional menghadapi berbagai ancaman dan potensi krisis internasional yang bisa timbul sewaktu-waktu.

Menurut Aloysius, kesiapan menghadapi tantangan global lebih penting dibandingkan sekadar menebak kemungkinan pecahnya konflik besar. Lemhannas sendiri rutin melakukan pemetaan risiko dan menganalisis skenario krisis melalui metode net assessment guna memantau kerentanan Indonesia di tengah tekanan eksternal.

Dari analisis tersebut, terlihat bahwa ketergantungan Indonesia pada energi dan pangan impor serta letak strategis di kawasan Indo-Pasifik menjadi titik rapuh yang dapat membuka celah bagi dampak negatif dari ketegangan geopolitik global. Gejolak di luar negeri bisa diduplikasi ke dalam negeri melalui kenaikan harga komoditas, ancaman stabilitas ekonomi, hingga resiko terhadap sistem pertahanan nasional.

Aloysius juga menggarisbawahi pentingnya Pancasila sebagai pilar utama supaya fondasi bangsa tetap kuat menghadapi guncangan global. Ia menilai, persatuan dan kekuatan ideologis bangsa adalah unsur vital yang seringkali diabaikan dalam upaya memperkokoh pertahanan negara, terutama di tengah arus besar perubahan geopolitik.

Sebagai pendukung diskusi, Broto Wardoyo dari Universitas Indonesia memaparkan bahwa berbagai krisis yang terjadi kini lebih tepat dipahami sebagai proses perombakan tatanan dunia internasional. Ia mengajak seluruh elemen muda untuk tidak terlalu mudah membandingkan situasi kekinian dengan narasi perang dunia masa lalu. Broto mengatakan bahwa krisis global yang melanda saat ini tampak seperti rangkaian masalah terpisah, namun saling terkait erat.

Menurutnya, ketegangan politik, krisis energi, dan tekanan ekonomi global hadir bersamaan, menciptakan lapisan ketidakpastian baru dalam hubungan internasional. Dalam diskusi ini, ia turut mengulas faktor kepemimpinan global seperti kebijakan-kebijakan Donald Trump yang dinilai mempercepat munculnya risiko instabilitas dalam sistem internasional.

Sebagai solusi jangka panjang, Broto memperkenalkan gagasan strategi resilience-based hedging, mengedepankan fleksibilitas dalam hubungan luar negeri serta penguatan daya tahan domestik. Cara ini diharapkan mampu memperkokoh kemampuan Indonesia agar tidak mudah terguncang oleh berbagai krisis maupun persaingan negara besar di pentas global.

IR Youth Talks menjadi wadah partisipasi bagi mahasiswa, akademisi, dan pembuat kebijakan lintas universitas di Jabodetabek untuk bersama-sama memperdalam pemahaman isu hubungan internasional. Inisiatif ini juga didukung oleh enam universitas anggota AIHII Chapter Jabodetabek, yaitu UI, Universitas Pertamina, BINUS, Universitas Moestopo Beragama, Universitas Jayabaya, dan Universitas Budi Luhur.

Jeanne Francoise dari President University menegaskan bahwa forum ini menjadi ruang pembelajaran kolektif agar generasi muda memahami pentingnya isu global, bukan hanya menjadi wacana kelompok elit atau pakar saja. Ia menilai keterlibatan aktif anak muda penting untuk menyiapkan bangsa menyambut masa depan yang penuh tantangan dan ketidakpastian.

Menjelang penutupan, Anggy Pasaribu mengingatkan bahwa setiap kontribusi dan kritik publik sebaiknya disampaikan dengan bijak serta lewat saluran yang benar. Ia mengajak generasi muda untuk menyampaikan gagasan yang membangun, bukan hanya menonjolkan sikap reaktif atau emosional.

Anggy menutup acara dengan menekankan bahwa meski dunia dipenuhi ketidakpastian, respons yang rasional dan kesiapan menghadapi segala kemungkinan adalah faktor utama yang perlu terus dibangun oleh bangsa Indonesia agar tetap tangguh di masa depan.

Sumber: Diskusi Geopolitik Di UI Soroti Risiko Global Bagi Anak Muda
Sumber: Diskusi Geopolitik Di UI Bahas Isu Perang Dunia, Anak Muda Diminta Siap Hadapi Risiko

RELATED ARTICLES

Terpopuler