IMF memperkirakan pertumbuhan global sebesar 3,1% pada 2026, mengalami penurunan 0,2% dari prediksi sebelumnya. Penurunan ini dipengaruhi oleh asumsi bahwa perang akan berlangsung singkat. Sementara itu, inflasi global diprediksi akan meningkat menjadi 4,4% pada tahun yang sama. IMF juga mencatat dua skenario yang berbeda terkait konflik yang lebih panjang. Dalam skenario terburuk, di mana harga minyak dan gas alam naik hingga 100-200% pada Januari dan tetap tinggi hingga tahun 2027, pertumbuhan ekonomi global diperkirakan hanya mencapai 2% pada 2026. IMF mengatakan bahwa hal ini dapat menyebabkan resesi global, dengan pertumbuhan ekonomi di bawah 2%, yang baru terjadi empat kali sejak tahun 1980.
Prediksi IMF ini disusul dengan peringatan dari berbagai ekonom dan organisasi lain, seperti Asian Development Bank (ADB) dan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), yang juga memperingatkan tentang dampak ekonomi yang ditimbulkan oleh perang berkepanjangan di Iran. Konsekuensi yang semakin nyata dari perang yang dipicu oleh Amerika Serikat dan Israel telah terjadi di berbagai negara sahabat dan sekutu, yang kini menghadapi ancaman kekacauan ekonomi. Penutupan Selat Hormuz oleh Iran telah memengaruhi pasokan minyak mentah dunia, serta pasokan komoditas lain seperti gas alam, helium, dan pupuk. Negara-negara di Asia-Pasifik mulai mengalami kelangkaan bahan bakar, dengan harga produk-produk minyak yang mulai naik. Menyusul situasi ini, para pengamat memperingatkan bahwa dunia sedang memasuki masa yang sangat berbahaya.


