Sebuah kelompok peretas yang diyakini berhasil meretas superkomputer pemerintah China telah mencuri sejumlah besar data sensitif, termasuk dokumen pertahanan rahasia tingkat tinggi dan skema rudal. Insiden ini menjadi salah satu kasus pencurian data terbesar yang tercatat di negara tersebut. Data tersebut konon berasal dari Pusat Superkomputasi Nasional (NSCC) di Tianjin, sebuah pusat data yang melayani lebih dari 6.000 klien di seluruh China.
Menurut para ahli siber, peretas berhasil masuk ke sistem komputer dengan relatif mudah dan mencuri data selama beberapa bulan tanpa terdeteksi. Mereka juga mengklaim bahwa data yang dicuri mencakup penelitian di berbagai bidang, termasuk teknik kedirgantaraan, penelitian militer, bioinformatika, dan lainnya. Data tersebut diduga terkait dengan organisasi terkemuka seperti Aviation Industry Corporation of China, Commercial Aircraft Corporation of China, dan National University of Defense Technology.
Meskipun belum diverifikasi, sejumlah pakar menganggap data yang muncul asli berdasarkan tinjauan awal mereka. Marc Hofer, seorang peneliti keamanan siber, menyatakan bahwa ukuran data yang dicuri sangat menarik bagi badan intelijen negara lain karena hanya mereka yang mungkin memiliki kemampuan untuk mengolahnya secara efektif.
Jika klaim tersebut benar, insiden ini mengungkapkan kerentanan serius dalam infrastruktur teknologi China, mengingat kelemahan keamanan siber yang telah lama menjadi titik lemah di berbagai sektor di negara itu. Pemerintah China juga diakui tantangan tersebut dan prioritas utama dalam Buku Putih Keamanan Nasional 2025 adalah memperkuat penghalang keamanan untuk sektor jaringan, data, dan kecerdasan buatan guna memastikan keamanan dan keandalan infrastruktur informasi.


