Konflik yang terjadi di Iran saat ini telah mulai memengaruhi industri otomotif global dengan cara yang signifikan. Selain menyebabkan lonjakan harga minyak, perang ini juga mengganggu rantai pasok dan berpotensi menekan penjualan mobil secara besar-besaran di seluruh dunia. Analisis terbaru menunjukkan bahwa dampak konflik ini dapat sangat signifikan, dengan perkiraan penurunan penjualan mobil global antara 800 ribu hingga 900 ribu unit hanya di tahun 2026. Dampak ini bahkan diperkirakan akan berlanjut hingga 2027 dengan tambahan penurunan sekitar 500 ribu unit, sehingga total penurunan penjualan kendaraan dalam dua tahun dapat melampaui 1,4 juta unit.
Salah satu faktor penting dalam penurunan penjualan ini adalah gangguan pada jalur pelayaran strategis seperti Selat Hormuz, yang merupakan jalur penting bagi distribusi minyak dan logistik global. Banyak perusahaan pelayaran kini menghindari wilayah ini karena risiko keamanan, meskipun belum sepenuhnya ditutup. Hal ini membuat pengiriman kendaraan dan komponen menjadi terhambat, dan memicu gangguan rantai pasok di berbagai negara.
Selain itu, lonjakan harga minyak yang disebabkan oleh konflik juga berdampak pada konsumen. Kenaikan biaya bahan bakar membuat masyarakat lebih berhati-hati dalam membeli kendaraan baru. Selain itu, kenaikan biaya energi juga berkontribusi pada inflasi global, yang pada akhirnya menekan daya beli dan memperlambat permintaan di pasar otomotif. Tidak hanya itu, industri otomotif juga menghadapi kenaikan harga bahan baku, gangguan produksi akibat keterlambatan suplai, dan ketidakpastian ekonomi yang memengaruhi keputusan pembelian.
Para analis memperingatkan bahwa meskipun konflik mereda dalam waktu dekat, dampaknya terhadap industri tidak akan langsung hilang dan membutuhkan waktu untuk pemulihan. Konflik di Iran telah mengakibatkan tekanan tambahan bagi industri otomotif yang sebelumnya sudah menghadapi tantangan seperti harga kendaraan yang tinggi, suku bunga mahal, serta perubahan tren ke kendaraan listrik. Kombinasi antara geopolitik, energi, dan ekonomi global membuat masa depan penjualan mobil semakin tidak pasti, dan konflik di Timur Tengah, terutama yang melibatkan Iran, telah menjadi ancaman serius bagi industri otomotif global.


