Harga minyak mentah mengalami lonjakan signifikan, mencapai lebih dari USD 112 pada Jumat, 20 Maret 2026. Peningkatan harga ini disebabkan oleh Irak mengumumkan keadaan force majeure di ladang minyak yang dioperasikan oleh perusahaan asing dan serangan drone terhadap dua kilang di Kuwait. Harga minyak Brent naik 3,26% menjadi USD 112,19 per barel, sementara harga minyak mentah Amerika Serikat (AS) menguat 2,27% menjadi USD 98,32 per barel.
Menurut sumber-sumber Kementerian Perminyakan Irak, Baghdad mengumumkan keadaan force majeure karena tidak dapat mengirim minyak mentah melalui Selat Hormuz akibat anjloknya lalu lintas kapal tanker minyak akibat serangan Iran. Serangan drone juga terjadi di kilang Mina Al-Ahmadi dan Mina Abdullah di Kuwait, menyebabkan kebakaran di beberapa unit kilang Mina Al Ahmadi.
Perkiraan dari pejabat minyak Saudi mengindikasikan bahwa harga minyak mentah berpotensi melonjak di atas USD 180 per barel jika gangguan perang di Iran berlanjut hingga akhir April. Untuk mengurangi tekanan harga, Menteri Keuangan AS, Scott Bessent, menyatakan kemungkinan pencabutan sanksi terhadap minyak mentah Iran yang disimpan di atas kapal tanker. Langkah ini diharapkan dapat meredakan dampak penutupan Selat Hormuz oleh Iran terhadap pasar minyak global.


