Bitcoin telah dikenal sebagai teknologi yang netral secara politik karena tugasnya yang hanya memproses transaksi dan mencatatnya di blockchain setiap 10 menit. Namun, dalam beberapa tahun terakhir, posisi Bitcoin mulai berubah menjadi aset ekonomi yang lebih terlibat dalam dinamika geopolitik global. Menurut Chief Operating Officer MEXC Vugar Usi Zade, banyak pemerintah melihat Bitcoin bukan hanya sebagai aset digital, tetapi juga sebagai instrumen strategis yang terkait langsung dengan sumber daya energi. Bitcoin membutuhkan energi dalam jumlah besar melalui proses penambangan berbasis proof-of-work, mengingat konsumsi energi jaringan Bitcoin mencapai sekitar 202 terawatt-jam per tahun, dengan sekitar 38% berasal dari energi terbarukan.
Negara-negara dengan pasokan energi melimpah mulai memanfaatkan kelebihan listrik untuk operasi penambangan kripto. Contohnya, Ethiopia membuka peluang bagi perusahaan penambangan kripto untuk menggunakan energi hidro yang tidak terpakai. Di negara lain seperti Prancis dan Amerika Serikat, pusat data aset digital mulai memanfaatkan energi terbarukan untuk aktivitas penambangan. Usi Zade berpendapat bahwa energi yang sebelumnya terbuang kini dapat diubah menjadi nilai ekonomi digital yang diperdagangkan secara global. Hal ini menunjukkan bahwa Bitcoin telah menjadi bagian dari persaingan energi global yang semakin intens, sehingga peranannya tidak hanya terbatas pada transaksi digital tetapi juga pada pemanfaatan sumber daya energi.


