Nilai tukar rupiah mengalami pelemahan saat pembukaan perdagangan hari Jumat ini. Kurs rupiah melemah sebesar 18 poin atau 0,11 persen menjadi Rp16.923 per dolar AS dari penutupan sebelumnya di level Rp16.905 per dolar AS. Pergerakan nilai tukar rupiah diprediksi akan terus melemah dengan rentang perkiraan pada penutupan hari ini antara Rp 16.900 hingga Rp 16.940.
Menurut Pengamat Ekonomi, Mata Uang & Komoditas Ibrahim Assuaibi, mata uang rupiah masih fluktuatif namun diperkirakan akan ditutup melemah dalam rentang tersebut. Penyebab pelemahan rupiah masih dipengaruhi oleh tensi geopolitik di Timur Tengah yang semakin memanas, terutama setelah insiden Iran meluncurkan rudal ke Israel. Hal ini menyebabkan ketegangan di daerah tersebut meningkat dan berpengaruh pada nilai tukar rupiah.
Kejadian lain yang mempengaruhi pelemahan rupiah adalah insiden pada perdagangan sebelumnya, di mana nilai tukar rupiah hampir menyentuh Rp 17.000 atau tepatnya Rp 16.903. Dalam keterangan lain, Ibrahim juga mengungkapkan berbagai peristiwa terkait serangan dan konflik di kawasan Timur Tengah yang turut memengaruhi nilai tukar rupiah.
Eskalasi konflik di Timur Tengah terjadi dalam beberapa hari terakhir dan masih terus berlangsung, terutama setelah serangkaian aksi dari berbagai pihak. Semua peristiwa ini turut memengaruhi kondisi ekonomi global dan pasar keuangan. Pasar global juga terpengaruh dengan adanya pelemahan rupiah akibat tekanan geopolitik yang terus berlanjut.
Dengan kondisi ini, perhatian terhadap nilai tukar rupiah dan perkembangan geopolitik di Timur Tengah sangat diperlukan untuk memantau dampaknya terhadap pasar keuangan global. Menyusul peristiwa-peristiwa tersebut, pengamat ekonomi memperkirakan bahwa nilai tukar rupiah masih akan mengalami fluktuasi dan berpotensi melemah dalam periode waktu yang akan datang.


