Prilly Latuconsina Menjadi Sorotan karena Status “Open to Work” di LinkedIn
Prilly Latuconsina kembali mencuri perhatian setelah mengaktifkan status “Open to Work” di akun LinkedIn pribadinya. Meskipun awalnya dianggap sebagai upaya eksplorasi diri, langkah tersebut telah menimbulkan perdebatan sosial di tengah kondisi pasar kerja yang tidak bersahabat. Kebijakan ini diambil Prilly setelah mundur dari Sinemaku Pictures, rumah produksi yang ia dirikan bersama Umay Shahab. Dia berminat untuk mengeksplorasi dunia kerja di sektor non-hiburan, mulai dari retail sales hingga field sales.
Setelah memasang lencana “Open to Work,” Prilly langsung dibanjiri permintaan koneksi dari berbagai latar belakang profesional. Tawaran pekerjaan pun mulai mengalir, termasuk posisi reporter di media nasional dan ajakan kolaborasi dari komunitas yang peduli pada isu lingkungan. Prilly bahkan mulai menjalani pekerjaan part-time sejak 30 Januari 2026, dengan fokus melakukan riset pasar dan memahami produk secara langsung.
Namun, keputusan Prilly untuk terlibat dalam promo pasta gigi sebagai sales mendapat kritik tajam dari sejumlah warganet. Mereka menilai langkah tersebut sebagai upaya pencitraan yang tidak peka sosial, terutama di tengah kondisi ekonomi yang sensitif. Banyak yang melihat status “Open to Work” sebagai simbol kecemasan ekonomi, perjuangan bertahan hidup, dan ketidakpastian karier, sehingga kritik terhadap Prilly semakin meningkat.
Meskipun popularitas dan nama besar Prilly membuatnya mudah mendapatkan peluang dan koneksi, situasinya sangat berbeda dengan pencari kerja lain yang harus melewati seleksi panjang dan persaingan ketat. Hal ini menyoroti ketimpangan di pasar kerja, di mana akses dan jejaring seringkali lebih penting daripada kualifikasi semata.


