Dalam isu awan kontainer yang sedang hangat dibincangkan di media sosial, Dosen Departemen Geofisika dan Meteorologi IPB University Sonni Setiawan menyebutkan adanya kesalahan dalam pemahaman fenomena atmosfer tersebut. Istilah “awan kontainer” yang sedang populer belakangan ini telah dikaitkan dengan cuaca ekstrem dan dampak kesehatan yang muncul, seperti gatal-gatal, mata perih, dan busa pada air hujan. Namun, Sonni menegaskan bahwa istilah ini tidak dikenal dalam ilmu meteorologi dan lebih merupakan kesalahpahaman dalam memahami fenomena atmosfer.
Menurut Sonni, narasi yang berkembang di media sosial ini mengandung kesalahan dalam memahami proses terbentuknya hujan, terutama dalam proses pengintian atau pembentukan inti kondensasi. Ia juga menegaskan bahwa keluhan kesehatan yang timbul akibat hujan, seperti gatal-gatal dan mata perih, bukan disebabkan oleh jenis awan tertentu, melainkan lebih terkait dengan fenomena hujan asam yang terjadi akibat polutan dalam udara.
Selain itu, Sonni mengklarifikasi bahwa tidak ada dasar ilmiah yang mendukung penggunaan istilah “awan kontainer” dan bahwa awan secara alami selalu bergerak mengikuti dinamika atmosfer. Ia juga menjelaskan mengenai jejak pesawat di langit yang sering dikaitkan dengan fenomena ini, menyebutnya sebagai jejak kondensasi pesawat atau contrail yang bukan bersifat permanen. Dengan demikian, Sonni mengimbau masyarakat agar lebih kritis dalam menyikapi informasi cuaca yang viral di media sosial dan tidak mudah mengaitkan fenomena atmosfer dengan klaim yang tidak memiliki dasar ilmiah.


