Institute for Demographic and Affluence Studies (IDEAS) merekomendasikan pemerintah untuk meningkatkan keberadaan data pengemudi ojek daring atau ojek online (ojol) yang dapat dipercaya. Menurut peneliti IDEAS, Muhammad Anwar, masih ada isu mendasar terkait kesejahteraan dan perlindungan kerja bagi jutaan pengemudi di industri ini.
Anwar menyatakan bahwa hingga saat ini belum ada data yang pasti terkait jumlah pengemudi daring di Indonesia. Hal ini disebabkan karena semua data yang beredar hanyalah perkiraan tanpa angka yang pasti dari berbagai asosiasi. Oleh karena itu, ia menekankan pentingnya pembenahan ekosistem ride-hailing secara menyeluruh pada tahun 2026 guna melindungi kesejahteraan para pengemudi.
Data yang valid sangat penting, terutama dalam memberikan intervensi kebijakan oleh instansi seperti Kemensos. Pemotongan tarif yang dilakukan oleh perusahaan sebaiknya tidak melebihi batas yang telah ditetapkan dalam regulasi resmi, seperti skema tarif lima ribu rupiah yang dapat merugikan pengemudi. Anwar juga menyoroti pentingnya menghentikan skema promosi yang tidak adil terhadap pengemudi, seperti praktik pembayaran tertentu untuk mendapatkan prioritas order pelanggan.
Menekankan bahwa promosi seharusnya menjadi strategi bisnis perusahaan aplikator, bukan cara untuk merugikan mitra pengemudi, Anwar mendorong untuk menghentikan praktik-praktik yang merugikan para pengemudi ojol. Dengan demikian, perlu tindakan tegas dan terarah dari pemerintah guna melindungi kesejahteraan para pengemudi dan memperbaiki ekosistem ojek daring di Indonesia.


