Perekonomian global diprediksi oleh Danantara Indonesia akan mengalami perlambatan yang berkelanjutan pada tahun 2026, meskipun risiko guncangan ekstrem mulai mereda. Hal ini terungkap dalam laporan Danantara Economic Outlook 2026, di mana tahun 2025 dianggap sebagai periode penting bagi sistem perdagangan dan keuangan global yang mengalami tekanan namun tetap bertahan.
Menurut Danantara, kebijakan proteksionisme, ketegangan geopolitik, dan kondisi keuangan global yang ketat telah mengganggu kepercayaan pelaku usaha dan investor. Meskipun demikian, sistem global diakui tidak runtuh, melainkan memasuki tahap penyesuaian baru.
Dengan memasuki tahun 2026, ketidakpastian global dianggap mulai mereda meskipun tetap tinggi. Namun, tantangan baru muncul karena pertumbuhan ekonomi di banyak negara utama melemah secara bersamaan. Amerika Serikat, Eropa, Jepang, dan China semuanya menghadapi risiko dan tekanan ekonomi yang berbeda.
Meskipun prospek ekonomi global cenderung melemah, Danantara melihat masih adanya peluang bagi negara berkembang dengan permintaan domestik kuat dan kebijakan yang kredibel. Dalam laporan tersebut, disebut bahwa ekonomi global akan mengikuti siklus baru namun tetap terintegrasi, tidak terfragmentasi menjadi blok-blok terpisah. Dengan demikian, 2026 diprediksi sebagai periode transisi menuju stagnasi relatif, dengan harapan bahwa ekonomi global akan dapat kembali pada status quo sebelumnya.


