Hasil survei terbaru dari Kaspersky menunjukkan bahwa 3 dari 10 orang Indonesia menggunakan teknologi kecerdasan buatan (AI) sebagai pendamping emosional. Dalam survei global Kaspersky, Indonesia mencatat angka cukup tinggi dalam penggunaan AI sebagai pendamping emosional. Survei ini mengungkap bahwa sebanyak 31 persen pengguna AI di Indonesia mempertimbangkan berbicara dengan AI ketika sedang sedih, melebihi rata-rata global sebesar 29 persen.
Tren penggunaan AI sebagai pendamping emosional cenderung dilakukan oleh Generasi Z dan milenial, yang telah terbiasa menjadikan teknologi AI sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari. Jika Generasi Z dan milenial menunjukkan minat besar pada dukungan berbasis AI, generasi yang lebih tua cenderung menunjukkan minat yang lebih rendah.
Namun, ada bahaya dalam curhat kepada AI. Meskipun teknologi AI mampu merespons secara personal dan memberikan saran yang tepat, pengguna harus ingat bahwa chatbot dari perusahaan komersial memiliki kebijakan pengumpulan dan pemrosesan data sendiri. Oleh karena itu, disarankan untuk merangkul saran AI dengan skeptisisme dan hindari berbagi informasi yang sangat pribadi, identitas, atau keuangan.
Kiat keamanan dari para pakar di Kaspersky termasuk meninjau kebijakan privasi alat AI sebelum memulai percakapan, hindari berbagi informasi yang sangat pribadi, identitas, atau keuangan dengan chatbot AI, dan gunakan layanan AI dari perusahaan terkemuka dengan rekam jejak privasi keamanan yang kuat. Hindari penggunaan bot anonim atau tidak dikenal yang mungkin dirancang untuk mengumpulkan data pribadi.


