Pada Kamis, 25 Desember 2025, kontroversi yang melibatkan anggota SEVENTEEN, Woozi, selama masa wajib militer tengah menjadi pusat perhatian di Korea Selatan. Isu ini mencuat setelah laporan tentang dugaan “penyalahgunaan kekuasaan” yang melibatkan Woozi. Laporan tersebut menyebutkan Woozi menerima permintaan pribadi dari seorang atasan militer bernama “A” untuk membantu mencarikan penyanyi untuk tampil dalam acara pernikahan atasan tersebut.
Hal ini memicu perdebatan di masyarakat terkait profesionalitas dan relasi kuasa antara perwira militer dan peserta wajib militer. Pihak Pusat Pelatihan Angkatan Darat memberikan klarifikasi, menyatakan bahwa tidak ada unsur paksaan dalam peristiwa tersebut. Meski demikian, pihak militer mengakui adanya persepsi berbeda dari sudut pandang peserta pelatihan terkait hubungan hierarkis di lingkungan militer.
Dalam upaya untuk memahami dan bersikap objektif terhadap dinamika hubungan antarindividu di barak, Pusat Pelatihan Angkatan Darat belum merencanakan sanksi atau hukuman terhadap pihak yang terlibat. Mereka akan melakukan survei terhadap anggota unit untuk meningkatkan budaya barak dan akan mengambil tindakan apabila terdapat kasus perlakuan tidak adil lainnya.
Meskipun kontroversi ini telah menarik perhatian publik, langkah-langkah hukuman atau sanksi tidak akan diberlakukan secara instan. Pihak pusat pelatihan menegaskan pentingnya meningkatkan budaya barak dan menanggapi kasus perlakuan tidak adil dengan tindakan yang tepat.


