Wednesday, February 11, 2026
HomeLainnyaDeepSeek Ungkap Betapa Cepat Ekosistem AI Berubah

DeepSeek Ungkap Betapa Cepat Ekosistem AI Berubah

Pada tanggal 23–24 Oktober 2025, Program Pascasarjana Ilmu Hubungan Internasional Universitas Indonesia menggelar International Postgraduate Student Conference (IPGSC), di mana Raden Wijaya Kusumawardhana mengambil peran sebagai pembicara utama mewakili Menteri Komunikasi dan Digital. Dalam forum ini, ia membahas pentingnya memahami keterkaitan antara kecerdasan buatan (AI), dinamika geopolitik, serta semakin masifnya ancaman siber terhadap keamanan nasional dan kedaulatan digital.

Raden Wijaya memaparkan bahwa dominasi dunia saat ini beralih ke medan digital, di mana data, sistem algoritmik, serta penguasaan teknologi AI menjadi instrumen kekuasaan utama. Menurutnya, kekuatan global kini tidak lagi hanya ditentukan oleh sumber daya alam atau kekuatan militer konvensional, melainkan oleh kemampuan mengelola dan mengamankan ekosistem digital. Kecanggihan AI telah membawa kemajuan di bidang ekonomi, sosial, hingga diplomasi, namun sekaligus menciptakan arena persaingan baru antarnegara.

Evolusi AI dan Pergeseran Peta Kekuatan Dunia

Ia menggarisbawahi fenomena pesatnya kemajuan AI di luar kawasan Barat, seperti munculnya DeepSeek dari Tiongkok, yang mampu menantang dominasi tradisional perusahaan-perusahaan AI besar dunia. Dengan modal relatif kecil, DeepSeek menekan nilai pasar AI global secara signifikan, membuktikan betapa ganas dan mudah bergesernya struktur kekuatan teknologi saat ini. Kondisi ini menunjukkan bahwa negara-negara dengan inovasi lebih agresif bisa segera mengambil alih posisi pemain utama, baik di level ekonomi maupun geopolitik.

Raden juga mencermati penggunaan AI dalam situasi konflik, seperti antara Rusia–Ukraina maupun Iran–Israel, yang memperlihatkan bagaimana AI kini dipakai dalam sistem pertahanan, pemetaan strategi militer, hingga automasi persenjataan mutakhir. Ada banyak faktor mengapa AI menjadi isu geopolitik vital, seperti sifat ganda (dual-use) yang memungkinkan teknologi ini dimanfaatkan untuk kepentingan sipil dan militer, ketergantungan negara pada industri microchip, serta kemampuan pembuat standar untuk mengendalikan regulasi global.

Nuansa Kompleks dan Risiko Ancaman Siber

Isu keamanan siber diangkat Raden sebagai persoalan yang tidak lagi sederhana dan kasat mata, melainkan penuh spektrum abu-abu. Keunggulan teknologi digital, termasuk sistem AI dan cloud, membuka peluang serangan baru dari berbagai pihak, baik negara maupun pelaku non-negara. Ia menunjukkan bahwa perangkat digital modern, disamping fungsinya untuk memajukan layanan publik, juga rawan diselewengkan untuk serangan jaringan, sabotase, dan penyadapan intelijen.

Ancaman siber ini bersifat multifungsi dan sangat adaptif. Negara dengan sumber daya teknologi tinggi dapat menargetkan infrastruktur lawan melalui operasi digital presisi. Namun, di sisi lain, aktor-aktor mungil yang bermodal terbatas, seperti kelompok kriminal atau hacktivist, mampu menyebabkan kerusakan besar melalui penyebaran malware, botnet, atau eksploitasi celah keamanan terbaru. Hal ini membuktikan ruang digital merupakan medan terbuka yang rawan disusupi siapa saja.

Salah satu tantangan terbesar berasal dari sulitnya identifikasi pelaku serangan karena teknik proxy dan otomatisasi serangan dengan bantuan AI, yang mempercepat penyebaran malware serta pemalsuan data digital. Belum lagi, AI generatif dimanfaatkan untuk mendesain konten hoaks, manipulasi informasi, dan propaganda yang berdampak pada persepsi publik bahkan dapat menggerus legitimasi institusi. Batas antara tujuan sipil dan militer kian kabur, dan kesulitan atribusi membuat pelacakan aktor jahat menjadi minim kepastian.

Raden Wijaya menyimpulkan bahwa bahaya siber bukan hanya masalah teknis atau teknologi semata, melainkan sudah menjadi tantangan utama kedaulatan digital serta stabilitas nasional dan politik. Oleh karenanya, Indonesia diharapkan segera menyusun langkah nyata memperkokoh pertahanan siber, membangun kemampuan penangkalan, serta melahirkan ekosistem talenta digital sebagai garda terdepan pengaman masa depan bangsa.

Urgensi Strategi Keamanan Digital Menyongsong Persaingan AI

Ia menegaskan kembali, di era ketika batas antara kolaborasi dan persaingan teknologi kian tipis, bangsa Indonesia jangan hanya fokus pada pengembangan teknologi dan riset AI, tetapi juga harus memperkuat infrastruktur mikroprosesor, melindungi aspek strategis digital, serta memastikan talenta lokal berkembang dengan baik. Menurutnya, strategi digital nasional wajib memayungi inovasi, keamanan, dan keberlanjutan infrastruktur secara simultan.

Dalam penutupannya di IPGSC, Raden Wijaya menegaskan bahwa kepemilikan teknologi canggih saja tidak cukup. Yang jauh lebih penting adalah kemampuan bangsa untuk menjaga, mengelola, serta mempertahankan teknologi digital tersebut agar tetap dalam kendali dan mendukung kedaulatan nasional di tengah wajah dunia yang makin terintegrasi secara digital dan penuh persaingan.

Sumber: AI Dan Ancaman Siber Menguji Kedaulatan Digital Indonesia Di Tengah Persaingan Global
Sumber: AI, Geopolitik, Dan Ancaman Siber: Tantangan Kedaulatan Digital Indonesia Di Era Kompetisi Teknologi Global

RELATED ARTICLES

Terpopuler