Schneider Electric baru-baru ini merilis hasil survei tahunan mereka dengan judul Green Impact Gap, yang mengungkap bagaimana perusahaan menggunakan keberlanjutan sebagai strategi untuk menghadapi tantangan ekonomi. Dalam konteks ini, kecerdasan buatan (AI) menjadi alat penting yang digunakan untuk mewujudkan ambisi keberlanjutan perusahaan.
Menurut Martin Setiawan, selaku Presiden Direktur Schneider Electric Indonesia & Timor Leste, perusahaan di Indonesia menganggap keberlanjutan sebagai langkah strategis untuk terus berkembang di tengah situasi bisnis yang dinamis. Dalam menghadapi tantangan ekonomi yang kompleks, pelaku bisnis di Indonesia telah secara proaktif memanfaatkan AI dan digitalisasi untuk meningkatkan efisiensi operasional, mengurangi risiko, dan menciptakan nilai jangka panjang.
Hasil survei menunjukkan bahwa 48 persen perusahaan di Indonesia telah mengadopsi AI untuk mendukung agenda keberlanjutan mereka. Teknologi AI terbukti efektif dalam mengelola risiko finansial dan konsumsi energi, sementara 37 persen perusahaan menggunakan AI untuk mengoptimalkan proses dan sumber daya mereka. Penerapan AI ini terutama bermanfaat dalam otomatisasi pengumpulan data, optimasi konsumsi energi, serta dukungan untuk desain produk.
Selain itu, survei juga menyoroti bahwa industri melihat inovasi dan daya saing sebagai faktor utama untuk kemajuan. Pelaku industri pusat data menjadi yang paling menekankan pentingnya inovasi dan teknologi untuk menjawab lonjakan permintaan daya komputasi, serta memastikan operasional yang efisien dan beremisi rendah di Indonesia.
Meskipun komitmen perusahaan terhadap keberlanjutan semakin kuat, survei tersebut juga mengungkap adanya ‘Green Impact Gap’ yang menunjukkan kesenjangan antara target keberlanjutan dan tindakan nyata untuk mencapainya. Hambatan-hambatan terkait dekarbonisasi juga mulai menurun, menciptakan iklim yang kondusif bagi percepatan transformasi keberlanjutan di berbagai sektor.








