PBNU mengimbau umat Islam untuk melaksanakan shalat ghaib sebagai bentuk solidaritas dan dukungan spiritual terhadap korban bencana alam di Indonesia. Ibadah ini menjadi cara umat Muslim turut mendoakan para korban yang wafat meski berada di tempat yang jauh. Dalam tradisi keilmuan Nusantara, lafal niat shalat ghaib dapat ditemukan dalam kitab Perukunan Melayu karya Syekh M. Arsyad Al Banjari. Lafal niat tersebut, أصلي على من مات اليوم وغسل من المسلمين أربع تكبيرات فرض كفاية لله تعالى, digunakan untuk jenazah umat Islam secara umum. Ustadz Alhafiz Kurniawan menjelaskan bahwa dalam kasus bencana alam dengan korban massal, cakupan niat ini dapat disesuaikan.
Ustadz Ahmad Dirgahayu Hidayat memberi contoh situasi ketika satu desa tertimpa musibah, di mana lafal niat dapat disesuaikan dengan jumlah korban. Jumlah rukun dalam shalat ghaib yaitu tujuh, yang meliputi niat, berdiri bagi yang mampu, empat kali takbir, membaca Al Fatihah setelah takbir pertama, membaca shalawat Nabi setelah takbir kedua, membaca doa untuk jenazah, dan salam pada takbir keempat. Doa yang dianjurkan setelah takbir ketiga adalah doa yang diriwayatkan dari Auf bin Malik, Allahummagfir lahu warhamhum wa fu anhu wa afihim wa akrim nuzulahum wa wassi madkhalahum wa aghsilhum bima in wa tsaljin wa baradin wa naqqihim minal khathaya kama yunaqqa ats tsaubul abyadhu minad danas wa abdilhum daran khairan min diyarihim wa ahlan khairan min ahlihim wa zaujan khairan min zauzihim waqihim fitnatal qabri wa adzaban nar.


