Cuaca ekstrem masih menjadi perhatian di sejumlah wilayah Indonesia dalam satu minggu ke depan. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) melaporkan potensi cuaca ekstrem dapat menimbulkan bencana hidrometeorologi karena peningkatan curah hujan di beberapa wilayah di Indonesia. Deputi Bidang Meteorologi BMKG, Guswanto, menjelaskan bahwa intensitas hujan meningkat karena faktor dinamika atmosfer global, regional, dan lokal. Faktor-faktor seperti Siklon Tropis Fung-Wong, aktivitas MJO, dan gelombang atmosfer diprediksi akan meningkatkan potensi cuaca ekstrem dan dapat menyebabkan bencana hidrometeorologi seperti banjir, tanah longsor, dan angin kencang.
Siklon Tropis Fung-Wong yang berada di Laut Filipina timur dan pergerakan arah barat laut menuju Luzon memberikan dampak tidak langsung di wilayah Kalimantan Utara, Sulawesi, Maluku, dan Papua bagian utara. Selain itu, gabungan aktivitas MJO dengan gelombang Rossby Ekuator dan Kelvin juga akan meningkatkan pembentukan awan konvektif di sebagian besar wilayah Indonesia. Wilayah yang diperkirakan terdampak cuaca ekstrem antara 10-16 November 2025 termasuk Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, Papua, Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara. Potensi hujan sedang hingga lebat terjadi di sebagian besar wilayah Indonesia, sedangkan potensi angin kencang di Banten, Bengkulu, Lampung, Nusa Tenggara Barat, dan Sumatera Barat.
Selama periode 13-16 November 2025, potensi hujan lebat-sangat lebat masih akan terjadi di sejumlah wilayah di Indonesia. Potensi angin kencang juga masih ada di beberapa wilayah. Dengan adanya potensi cuaca ekstrem ini, direkomendasikan untuk tetap waspada dan mengikuti perkembangan informasi cuaca terbaru dari BMKG.


