Perusahaan teknologi Microsoft telah menghentikan layanan untuk militer Israel setelah menemukan penggunaan teknologi komputasi awan untuk surveilans massal terhadap warga Palestina. Presiden Microsoft, Brad Smith, menjelaskan bahwa peninjauan dilakukan setelah investigasi oleh surat kabar Guardian mengungkap aktivitas Unit 8200 militer Israel yang menggunakan layanan Azure milik Microsoft untuk menyimpan rekaman panggilan telepon seluler warga Palestina. Keputusan ini diambil untuk tidak memfasilitasi surveilans massal terhadap warga sipil. Microsoft telah memberitahukan Kementerian Pertahanan Israel tentang penghentian layanan tertentu, namun tindakan ini tidak memengaruhi layanan keamanan siber perusahaan untuk negara-negara lain di Timur Tengah. Tekanan dari karyawan dan investor menjadi faktor utama dalam keputusan ini, terutama terkait dengan hubungan perusahaan dengan operasi militer Israel di Gaza. Agresi Israel ke Palestina sejak Oktober 2023 telah menimbulkan konsekuensi tragis, dengan ribuan warga tewas dan jutaan menjadi pengungsi.


